Home / Peristiwa / PUKIS Ungkap Dugaan Rantai Kesalahan di Balik Kecelakaan Kereta Api Bekasi Timur
IMG_20260428_141413

PUKIS Ungkap Dugaan Rantai Kesalahan di Balik Kecelakaan Kereta Api Bekasi Timur

Tasikzone.com – Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS) menyampaikan duka cita mendalam atas insiden kecelakaan kereta api yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 sekitar pukul 20.50 WIB.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif PUKIS, Gibran Sesunan, di Jakarta, Selasa (28/4/2026). Ia menilai peristiwa ini menjadi catatan kelam dalam sejarah perkeretaapian nasional dan harus menjadi momentum evaluasi besar-besaran.

“PUKIS mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan evaluasi total dan menyeluruh terhadap sistem perkeretaapian nasional,” ujar Gibran dalam keterangannya.

Menurutnya, langkah tegas perlu diambil, termasuk melakukan perombakan struktural di sejumlah lembaga terkait, seperti Kementerian Perhubungan, PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), guna menjamin akuntabilitas serta mendukung proses penyelidikan.

PUKIS juga menyatakan dukungan penuh kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) agar dapat bekerja secara transparan dan independen dalam mengungkap penyebab kecelakaan. Di sisi lain, PUKIS turut mengapresiasi kerja cepat para penanggap pertama (first responder) dan tim penyelamat di lapangan.

Namun demikian, Gibran mengkritik kebijakan efisiensi anggaran yang dinilai berdampak terhadap kinerja lembaga keselamatan seperti KNKT dan Basarnas, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap aspek keselamatan transportasi nasional.

Lebih lanjut, PUKIS menegaskan bahwa penyelidikan harus menyentuh aspek yang lebih luas, tidak hanya teknis-operasional, tetapi juga kemungkinan adanya kelalaian dari regulator, operator, hingga pihak lain yang terlibat dalam rangkaian kejadian tersebut.

PUKIS mengungkapkan indikasi awal bahwa kecelakaan bermula dari insiden temperan antara KRL Commuter Line dengan sebuah kendaraan taksi di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur. Gangguan tersebut diduga memicu rangkaian kejadian lanjutan yang berujung pada tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek.

BACA JUGA   Belasan Remaja Bawa Badik, Batu Bata Dan Stik Bisbol Diamankan Tim Patroli Maung Galunggung

“Dua insiden berbeda yang terjadi dalam waktu berdekatan pada lintasan yang sama mengindikasikan adanya kemungkinan korelasi. Ini menunjukkan adanya efek domino akibat kegagalan sistem dalam mengendalikan dampak awal,” jelas Gibran.

Ia menambahkan, faktor penyebab bisa berasal dari aspek teknis seperti sistem persinyalan, non-teknis seperti human error, maupun kombinasi keduanya, yang saat ini masih menunggu hasil investigasi resmi KNKT.

PUKIS juga menyoroti lemahnya penanganan awal di lokasi kejadian. Pada menit-menit krusial, area belum sepenuhnya disterilkan, bahkan terjadi kerumunan masyarakat dan aktivitas siaran langsung di media sosial yang berpotensi menghambat proses evakuasi.

Sebagai langkah ke depan, PUKIS mendorong percepatan pembangunan infrastruktur perkeretaapian, khususnya di wilayah Jabodetabek. Beberapa langkah strategis yang dinilai mendesak antara lain pembangunan jalur double-double track untuk memisahkan KRL dengan kereta jarak jauh, modernisasi sistem persinyalan, serta penanganan perlintasan sebidang.

Di akhir pernyataannya, PUKIS juga mengkritik kehadiran pihak-pihak yang dinilai tidak memiliki kewenangan langsung dalam penanganan insiden di lapangan. Hal tersebut, menurut Gibran, berpotensi menimbulkan gangguan terhadap proses evakuasi dan mencerminkan lemahnya koordinasi.

“Peristiwa ini harus menjadi pelajaran penting agar ke depan sistem transportasi kita lebih aman, tertata, dan berorientasi pada keselamatan publik,” pungkasnya. (Rls)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *