Home / Ragam / Merawat Ingatan, Menjaga Silaturahmi : Kisah Pegawai PU Era Lama yang Takut Jalan Berlubang
IMG_20260420_111543

Merawat Ingatan, Menjaga Silaturahmi : Kisah Pegawai PU Era Lama yang Takut Jalan Berlubang

Tasikzone.com — Di tengah suasana hangat halal bihalal, kenangan lama para purnabakti Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Tasikmalaya kembali mengalir. Bukan sekadar nostalgia, tetapi juga potret dedikasi dan semangat kerja di masa lalu yang terasa kontras dengan kondisi saat ini.

Salah satu penggagas kegiatan, Yono Wiyono, mengenang masa-masa ketika menjadi pegawai PU pada era 1970-an. Baginya, bekerja di PU bukan hanya soal rutinitas, tetapi juga tanggung jawab moral yang dijaga dengan disiplin tinggi.

“Dulu, jangankan jalan rusak parah, ada lubang sedikit saja kami sudah khawatir. Takut dimarahi pimpinan, dalam hal ini Bupati Tasikmalaya,” ungkapnya sambil tersenyum mengingat masa itu. Sabtu (18/04/2026) di Aula RM Sambel Hejo Jl Letjend Mashudi Kota Tasikmalaya

Yono yang pensiun pada 2012, di akhir masa kepemimpinan Bupati Tatang Farhanul Hakim, telah melewati berbagai dinamika pemerintahan.

Ia menyaksikan langsung perubahan struktur kelembagaan, mulai dari Dinas PUK, kemudian menjadi DPUK, hingga akhirnya bertransformasi menjadi PU Bina Marga setelah penyesuaian dengan sistem otonomi daerah.

“Dulu kita satu kesatuan. Sekarang ada yang ke provinsi, ada yang ke kabupaten, bahkan setelah pemekaran wilayah, struktur juga ikut berubah,” tuturnya.

Namun lebih dari sekadar perubahan nama dan struktur, yang paling dirindukan adalah semangat kebersamaan dan rasa memiliki terhadap pekerjaan.

Acara purnabakti ini sendiri menjadi ruang temu yang sarat makna. Para pensiunan yang berasal dari berbagai angkatan mulai dari yang pensiun tahun 2005, 2008, 2010, hingga 2012 berkumpul kembali dalam suasana kekeluargaan.

BACA JUGA   Persiapan Memory Of Galunggung, Kini Lebih Libatkan Masyarakat

“Ini bukan sekadar kumpul. Ini silaturahmi. Dulu kita bekerja bersama, sekarang kita menjaga persaudaraan,” kata Yono.

Kegiatan ini sejatinya rutin digelar setiap tahun. Namun, pandemi COVID-19 sempat menghentikan tradisi tersebut. Tahun ini, momentum Idulfitri 1447 Hijriah menjadi titik kembali berkumpulnya para purnabakti.

Menariknya, seluruh kegiatan diselenggarakan secara swadaya. Tidak ada ketergantungan pada pihak luar.

Di balik kehangatan itu, terselip refleksi yang cukup dalam. Yono secara halus membandingkan etos kerja di masa lalu dengan kondisi saat ini, di mana kebijakan efisiensi anggaran menjadi tantangan tersendiri bagi para pegawai aktif.

Jika dulu respons terhadap kerusakan infrastruktur begitu cepat karena dorongan tanggung jawab dan tekanan moral, kini realitas birokrasi menuntut penyesuaian dengan keterbatasan anggaran serta prioritas pembangunan.

Meski demikian, Yono tidak ingin membandingkan secara tajam. Baginya, setiap zaman memiliki tantangan masing-masing. Yang terpenting, nilai dasar pengabdian tetap harus dijaga.

“Dengan halal bihalal ini, kita saling memaafkan. Dulu mungkin ada salah kata atau tindakan saat bekerja. Sekarang kita kembali ke fitri, seperti saudara,” ucapnya.

Di usia yang tak lagi muda, para purnabakti ini membuktikan bahwa pengabdian tidak berhenti saat masa tugas berakhir. Ia justru hidup dalam kenangan, nilai, dan silaturahmi yang terus terjaga.

Sebuah pengingat sederhana, bahwa di balik jalan yang mulus, pernah ada generasi yang bekerja dengan rasa takut bukan karena tekanan semata, tetapi karena besarnya tanggung jawab. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *