Home / Ragam / Gagal Lagi, Pemerintah Diminta Ubah Total Skema Tol Getaci
IMG_20260418_095316

Gagal Lagi, Pemerintah Diminta Ubah Total Skema Tol Getaci

Tasikzone.com – Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS) menyoroti terhentinya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) yang hingga kini belum menunjukkan progres berarti.

Direktur Eksekutif PUKIS, M. M. Gibran Sesunan, menilai kegagalan lelang yang terjadi hingga dua kali menjadi sinyal bahwa proyek tersebut kurang diminati investor.

“Proyek ini sudah dua kali gagal lelang. Artinya, daya tariknya di mata investor masih rendah, sehingga pemerintah perlu mengubah strategi pembangunan,” ujar Gibran dalam Keteranganya Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, pada lelang pertama sebenarnya telah ada pemenang. Namun, konsorsium tersebut gagal memenuhi kewajiban pembiayaan (financial close), sehingga pemerintah harus membuka lelang ulang. Sayangnya, pada lelang kedua, proyek ini kembali tidak berhasil menarik investor.

Kondisi tersebut membuat PUKIS mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam menyiapkan langkah alternatif agar proyek tetap berlanjut. Menurut Gibran, pengulangan lelang tanpa perubahan pendekatan hanya akan memperpanjang stagnasi.

“Pemerintah seharusnya menyiapkan skenario cadangan. Tidak efektif jika hanya mengandalkan lelang ulang tanpa strategi baru dalam pengembangan maupun pengusahaan jalan tol ini,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menilai kegagalan ini berdampak serius terhadap keberlangsungan proyek yang dirancang untuk menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut. Keberadaan investor dinilai krusial untuk membentuk Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), yang bertanggung jawab dalam pembangunan, pengelolaan, hingga operasional jalan tol, termasuk penyusunan perencanaan teknis dan dukungan pembiayaan awal, seperti pengadaan lahan.

Gibran mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat proyek tol terpanjang di Indonesia ini kurang menarik. Salah satunya adalah tingginya biaya investasi yang tidak sebanding dengan proyeksi lalu lintas kendaraan. Kondisi ini membuat potensi pendapatan dari tarif tol dinilai kurang menjanjikan bagi investor.

Menurut analisis PUKIS, potensi lalu lintas pada ruas Gedebage hingga Tasikmalaya masih tergolong tinggi. Namun, dari Tasikmalaya menuju Cilacap diperkirakan jauh lebih rendah, sehingga memengaruhi kelayakan investasi secara keseluruhan.

BACA JUGA   Seorang Pria Di Puspahiang, Meninggal Di Dalam Sumur

Selain itu, kondisi iklim investasi infrastruktur yang sedang melemah juga menjadi faktor penghambat. Ketidakpastian ekonomi mendorong investor lebih berhati-hati, terlebih proyek infrastruktur dikenal memiliki risiko tinggi, kebutuhan modal besar, serta periode pengembalian investasi yang panjang. Di sisi lain, penurunan alokasi anggaran infrastruktur dalam APBN turut memperkuat persepsi bahwa sektor ini bukan lagi prioritas utama pemerintah.

Sebagai solusi, PUKIS menawarkan beberapa opsi. Pertama, pemerintah dapat terlibat langsung melalui skema dukungan konstruksi (dukon), di mana beban pembiayaan dan pelaksanaan proyek dibagi antara pemerintah dan badan usaha. Skema ini sebelumnya telah diterapkan pada sejumlah proyek, seperti ruas Semarang–Demak dan Serang–Panimbang.

Namun demikian, Gibran meragukan komitmen pemerintah dalam menyediakan dukungan tersebut, mengingat keterbatasan anggaran infrastruktur pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, serta pernyataan Kementerian Pekerjaan Umum yang tidak lagi memprioritaskan dukungan konstruksi untuk proyek KPBU.

Alternatif kedua, pemerintah dapat melibatkan lembaga investasi negara seperti Danantara atau Indonesia Investment Authority (INA) untuk berpartisipasi langsung, misalnya dengan membentuk atau memimpin konsorsium dalam proses lelang berikutnya.

Sementara itu, opsi ketiga adalah merevisi skema proyek dengan membagi ruas Tol Getaci menjadi dua bagian, yakni Gedebage–Tasikmalaya dan Tasikmalaya–Cilacap. Pembagian ini dinilai dapat menekan nilai investasi per paket sehingga lebih realistis dan menarik bagi investor.

Gibran menilai, ruas Gedebage – Tasikmalaya memiliki potensi lebih besar untuk segera direalisasikan karena tingkat permintaan yang relatif tinggi.

Jika ruas ini terlebih dahulu terbangun, maka akan meningkatkan konektivitas dan aktivitas ekonomi, yang pada akhirnya dapat mendorong minat investor terhadap ruas lanjutan hingga Cilacap.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah terobosan nyata dari pemerintah. Tidak masalah jika pembangunan difokuskan hingga Tasikmalaya terlebih dahulu, daripada terus terjebak dalam siklus lelang yang berulang tanpa hasil,” pungkasnya.

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *