Home / Olahraga / Lolos BK Setelah 25 Tahun, Voli Kota Tasikmalaya Terancam Gagal Berangkat ke Porprov Jabar
Para Atlit Bola Voli Putri usai latihan di Lapang Padasuka Kota Tasikmalaya, sabtu (02/05/1026)
Para Atlit Bola Voli Putri usai latihan di Lapang Padasuka Kota Tasikmalaya, sabtu (02/05/1026)

Lolos BK Setelah 25 Tahun, Voli Kota Tasikmalaya Terancam Gagal Berangkat ke Porprov Jabar

Tasikzone.com — Cabang olahraga bola voli Kota Tasikmalaya mencatat sejarah baru setelah berhasil lolos Babak Kualifikasi (BK) menuju PORPROV (Pekan Olahraga Provinsi) Jawa Barat XV yang akan digelar November mendatang.

Namun di tengah capaian tersebut, muncul kekhawatiran karena beredar informasi bahwa tim voli justru tidak akan diberangkatkan oleh pemerintah.

Ketua PBVSI Kota Tasikmalaya, H. Oman Rohman, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini merupakan momen langka. Pasalnya, selama 25 tahun terakhir bahkan sejak Kota Tasikmalaya berdiri, cabang olahraga voli belum pernah berhasil lolos BK.

“Ini sejarah baru bagi kami. Sudah 25 tahun terakhir, bahkan sejak Kota Tasikmalaya berdiri, cabor voli tidak pernah lolos BK. Sekarang ketika berhasil, justru muncul kabar tidak akan diberangkatkan,” ujar Oman.

Menurutnya, meskipun kabar bahwa tim tidak akan diberangkatkan ke Porprov, pihaknya tetap menjalankan program pembinaan secara maksimal. Tim putri yang berhasil meraih peringkat ketiga di BK, serta tim putra yang lolos melalui poin, terus menjalani latihan intensif.

“Kami tetap melakukan pembinaan rutin. Dalam satu minggu, latihan dilakukan enam kali dengan menghadirkan pelatih nasional dan pelatih daerah sebagai pendamping. Untuk tim putri bahkan sudah dikarantina agar fokus latihan,” jelasnya.

Oman menegaskan, pihaknya berharap pemerintah tidak menganaktirikan cabang olahraga voli. Ia menilai alasan keterbatasan anggaran yang disampaikan terkesan tidak adil jika hanya berdampak pada satu cabang olahraga.

“Kalau alasannya klasik, tidak ada anggaran, kenapa hanya bola voli saja yang tidak diberangkatkan? Kenapa tidak semua cabor? Kami menuntut keadilan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa batas akhir pendaftaran keikutsertaan Porda jatuh pada 30 Mei. Jika hingga batas waktu tersebut tidak ada kepastian dari KONI, maka tim voli dipastikan tidak bisa ikut serta dan berpotensi terkena sanksi.

“Kalau tidak didaftarkan, kami tidak bisa ikut dan akan ada sanksi. Bahkan ke depan bisa berdampak, PBVSI pusat bisa memberikan sanksi dan kami tidak bisa lagi ikut BK Porprov berikutnya,” katanya.

BACA JUGA   Budi Optimis "Jabar Kahiji" Di PON XIX Dan PEPARNAS XV

Saat ini, masing-masing tim terdiri dari 18 atlet putra dan 18 atlet putri yang telah menjalani pembinaan secara serius. Oman menilai, jika akhirnya tidak diberangkatkan, maka seluruh proses pembinaan akan sia-sia.

“Kami sudah membina atlet habis-habisan. Kalau tidak bisa ikut Porda, ini akan sangat disayangkan dan menjadi sia-sia,” ujarnya.

Dalam waktu Dekat PBVSI Kota Tasikmalaya akan melayangkan surat kepada Pemerintah untuk melakukan audensi dengan meminta pertanggungjawaban langsung.

Sementara itu, dua atlet voli putri, Mutia dan Sarah, mengaku kecewa dengan situasi yang terjadi. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan dukungan penuh agar bisa tampil di ajang Porda.

“Kami kecewa, tapi tetap berharap pemerintah bisa memfasilitasi agar kami bisa berangkat,” ungkap mereka.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, menyampaikan bahwa pihaknya telah mempercayakan pengelolaan teknis kepada KONI dan Dinas terkait.

“Di unsur pimpinan, kami mempercayakan kepada KONI dan Disporabudpar untuk mengatur itu semua. Strategi dan teknisnya kami serahkan kepada dinas dan KONI,” kata Diky.

Ia menambahkan, kondisi efisiensi anggaran saat ini tidak hanya terjadi di daerah, tetapi juga secara nasional. Meski demikian, komunikasi dan koordinasi dinilai menjadi kunci agar semua cabang olahraga tetap bisa difasilitasi.

“Hampir seluruh Indonesia terdampak efisiensi. Tinggal bagaimana kita menjaga komunikasi dan strategi agar semuanya bisa berjalan tanpa harus menyakiti,” ujarnya.

Diky juga membuka ruang dialog apabila terdapat solusi alternatif, termasuk kemungkinan pembiayaan mandiri yang bisa dibicarakan bersama KONI dan Disporabudpar.

“Kalau memang ada skema atau kemampuan mandiri, itu bisa dibicarakan. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, perlu kolaborasi semua pihak untuk membangun Kota Tasikmalaya,” pungkasnya. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *