Tasikzone.com – Upaya percepatan penurunan stunting terus diperkuat melalui pendekatan edukatif di lingkungan sekolah. Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya menjalin kerja sama strategis dengan Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya untuk mengintegrasikan pendidikan kesehatan reproduksi dalam kegiatan kokurikuler di tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Selasa (05/05/2026)
Kolaborasi ini menjadi bagian dari peran Poltekkes sebagai perguruan tinggi vokasi di bidang kesehatan yang tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Program tersebut sekaligus menjadi inovasi berbasis riset dalam menjawab tantangan stunting yang masih menjadi prioritas nasional.

Melalui kegiatan ini, Poltekkes menginisiasi diskusi kelompok terarah yang melibatkan kepala sekolah dan guru.
Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat pemahaman tenaga pendidik dalam mengintegrasikan edukasi kesehatan reproduksi ke dalam aktivitas kokurikuler, termasuk mendorong kesadaran konsumsi tablet tambah darah (TTD) di kalangan remaja putri sebagai langkah pencegahan stunting.
Ketua tim peneliti, Bdn. Wiwin Mintarsih Purnamasari, SSiT, M.Kes menyampaikan bahwa program pemberian TTD telah lama dijalankan pemerintah, namun masih memerlukan penguatan dari berbagai pihak, khususnya dalam meningkatkan kepatuhan remaja.
“Sekolah menjadi ruang strategis untuk membangun kesadaran remaja putri agar patuh mengonsumsi TTD melalui pendekatan yang mindful, meaningful, dan joyful. Ini menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang sehat secara fisik dan mental,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dr. Dini Mariani yang menilai pendekatan berbasis sekolah memiliki peran penting dalam membentuk perilaku kesehatan jangka panjang. Menurutnya, siswa SMP merupakan kelompok strategis yang perlu dibekali pengetahuan kesehatan reproduksi secara komprehensif.
“Edukasi ini berkaitan dengan pencegahan anemia, pernikahan dini, serta kesiapan kesehatan sebelum memasuki usia reproduksi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Rojab Riswan Taufik, mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai bentuk sinergi antara sektor pendidikan dan kesehatan. Ia menilai peran guru sangat penting dalam menyampaikan edukasi kepada siswa.
“Integrasi pendidikan kesehatan reproduksi dalam kegiatan kokurikuler merupakan langkah relevan dan strategis,” ujarnya.
Kegiatan ini digelar di Auditorium Lantai 3 Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya dan dihadiri sejumlah pejabat internal, di antaranya Wakil Direktur Bidang Akademik, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, serta tim kerja sama dan peneliti.
Program ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam percepatan penurunan stunting yang menekankan pentingnya intervensi spesifik dan sensitif, termasuk melalui sektor pendidikan. Remaja dipandang sebagai kelompok kunci dalam pencegahan stunting jangka panjang.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan tercipta lingkungan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan perilaku hidup sehat. Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya menyatakan akan terus memperluas kerja sama dengan berbagai pihak guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. (***)
Tasik Zone Kreativitas Muda Untuk Indonesia