Tasikzone.com – Program Tasik Resik menjadi salah satu dari tujuh program prioritas di bawah kepemimpinan Viman Alfarizi Ramadhan yang difokuskan pada penataan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah dan peningkatan ruang terbuka hijau guna mewujudkan kota yang lebih asri dan nyaman untuk ditinggali.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya sebagai pelaksana teknis terus mengakselerasi berbagai langkah strategis.
Seperti yang disampaikan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Fery Arif, kepada wartawan. Selasa (28/04/2026) diruang kerjanya.
Dirinya menyampaikan bahwa program Tasik Resik menitikberatkan pada optimalisasi tata kelola persampahan dari hulu hingga hilir.
“Intinya bagaimana pengelolaan sampah ini bisa optimal, mulai dari sumbernya sampai ke pengolahan akhir, sehingga beban ke TPA bisa berkurang,” ujarnya.
Salah satu fokus utama adalah pengurangan dan penanganan sampah Dari sisi pengurangan, DLH mendorong masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumber, baik organik maupun anorganik.
Sampah tersebut kemudian dimanfaatkan agar memiliki nilai ekonomi, sehingga mendorong terbentuknya ekonomi sirkular di tengah masyarakat.
DLH juga menggalakkan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, dengan target ke depan agar sampah yang masuk ke TPA Ciangir hanya berupa residu.
Dalam implementasinya, berbagai program telah berjalan, di antaranya pengolahan sampah organik menjadi kompos dan eco enzyme, serta pengembangan bank sampah untuk menampung sampah anorganik.

“Saat ini tercatat sekitar 70 bank sampah aktif, dengan target ke depan satu RW satu bank sampah,” ucapnya
Selain itu, DLH juga melakukan penanganan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar serta meningkatkan pelayanan persampahan kepada masyarakat.
Upaya lain yang terus dikembangkan adalah pengelolaan sampah berbasis TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai solusi di tingkat hulu. Sejumlah TPS 3R yang telah berjalan di antaranya berada di wilayah Cipedes, Cibeureum, Purbaratu, dan Kawasan Lewidahu.
“Melalui TPS 3R, kita ingin persoalan sampah bisa diselesaikan dari hulunya, sehingga tidak semuanya berakhir di TPA,” jelas Fery.
DLH juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan sampah.
Saat ini, volume sampah di Kota Tasikmalaya mencapai sekitar 320 ton per hari. Melalui program Tasik Resik, DLH menargetkan penurunan signifikan, di mana hingga saat ini telah tercapai pengurangan sekitar 12,6 persen.
Program Tasik Resik juga disebut selaras dengan program nasional Indonesia Asri, yang mengedepankan nilai Aman, Sehat, Resik, dan Indah sebagai fondasi pembangunan lingkungan berkelanjutan.
“Harapannya, Tasikmalaya bisa menjadi kota yang bersih, sehat, dan nyaman, sekaligus menjadi bagian dari terwujudnya Indonesia yang lebih asri,” pungkasnya. (***)
Tasik Zone Kreativitas Muda Untuk Indonesia