Home / Opini / Diamlah Sebelum Engkau Menyesal
Diamlah Sebelum Engkau Menyesal

Diamlah Sebelum Engkau Menyesal

Oleh: Rifyal Luthfi MR

Ketahuilah bahwa dahulu pokok harta seseorang itu ialah waktunya. Maka jikalau seseorang itu menggunakan waktunya itu untuk hal-hal yang tidak akan membawa kemanfaatan untuknya dan pula waktu-waktu itu tidak disimpannya untuk amalan yang memperoleh pahala akhirat, maka orang yang demikian ini benar-benar telah menyia-nyiakan pokok hartanya. Oleh sebab itu Rasulullah saw. bersabda: “Setengah dari tanda kebaikan Islamnya seseorang adalah jikalau ia meninggalkan apa-apa yang tidak diperlukan olehnya.” (HR. Tirmidzi)

Adapun sebab-sebab yang menimbulkan demikian itu ialah karena keinginannya untuk mengetahui hal-hal yang ia sendiri sebenarnya tidak memerlukannya atau menghabiskan waktunya yang berharga itu hanya untuk mengobrol, bercerita, menggosip yang bukan-bukan atau membicarakan hal￾hal yang tidak bermanfaat dan berfaedah. Ingatlah bahwa bahaya lisan itu amat besar sekali dan sama sekali tidak ada suatu hal yang dapat menyelamatkannya, melainkan berkata-kata dengan yang baik. Rasulullah saw. bersabda: “Belum dinamakan lurus keimanan seseorang itu sehingga lurus pula hatinya dan belum juga dinamakan lurus hatinya itu sehingga luruslah lisannya dan tidak akan dapat surga seseorang yang tetangganya itu belum dapat merasa aman dari kejahatan-kejahatannya.” (HR. Ibn Abiddunya & Kharaiti)

Ada ungkapan mengatakan bahwa “diam itu ibarat emas”, maksudnya adalah diam itu lebih baik daripada berbicara ngawur yang tidak memberikan manfaat kebaikan baik bagi dirinya dan pendengarannya. Perkataan yang salah apalagi dicampuri dengan emosi yang tidak terkontrol, tentu akan sangat membahayakan karena bisa menyakitkan perasaan orang lain. Dalam kondisi demikianlah, diam itu bagaikan emas yang sangat berharga.Dalam sebuah hadits Athabrani, Rasulullah saw. bersabda: “Kesalahan yang paling banyak dilakukan anak adam adalah pada lidahnya.” Namun kebaikan juga bisa timbul dari lisan, dan itu tergantung orang yang menggunakannya. Lidah ini kelak akan menjadi saksi pada hari perhitungan (yaumul Hisab) di hadapan Hakim yang Bijaksana. Maka tugas kita adalah menjaganya bagaimana lidah ini tidak menyebarkan fitnah, kejahatan dan menimbulkan kemadhorotan baik bagi dirinya maupun orang lain. Firman Allah swt. “Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dulu mereka kerjakan.” (Qs. An-Nuur: 24)

Lidah dan tangan merupakan dua anggota tubuh yang berpotensi untuk mendatangkan kebaikan dan keburukan dalam pergaulan di masyarakat. Diri kita akan dinilai orang sebagai muslim yang baik, kalau mereka merasa aman, tidak terganggu ketentraman hidupnya oleh ucapan dan perbuatan kita. Namun apabila masyarakat sekitar kita merasa terancam atas kehadiran kita, maka kita perlu memperbaiki diri karena ada indikasi bahwa keislaman kita masih kurang, dikarenakan diri kita tidak sanggup memberikan keamanan kepada orang lain.

Sering kali kita mendengar bahwa lidah lebih tajam daripada pedang. Ungkapan ini juga mengandung bahasa figurativ, dimana lidah digunakan untuk menggantikan kata “kata”. Lidah adalah organ penting dalam memproduksi kata, sehingga ketika lidah kita tidak sempurna misalnya, kata yang kita keluarkanpun jadinya kurang atau tidak jelas. Dengan kata lain ungkapan ini menyatakan kata-kata itu lebih tajam daripada sebuah pedang, artinya ketika kita tidak hati-hati dalam berbicara, seseorang bisa jatuh tersungkur dari kedudukannya, mati karirnya dan hilang sumber kehidupannya bahkan kematian akan datang kepadanya. Bahkan Rasulullah bersabda bahwa “Sebesar-besar kesalahan seseorang pada hari kiamat ialah yang terbanyak omong kosongnya dalam hal kebathilan.”(HR. Thabrani)

Ketajaman kata tidak sama persis dengan ketajaman pedang, dimana ketika menggores kulit akan segera mengeluarkan darah. Namun, ketajaman kata yang mungkin tidak terlihat ini bisa menimbulkan luka yang jauh lebih dalam, yang barangkali tidak luntur ditelan waktu. Sabda Rasulullah saw. “ Amal yang paling dicintai Allah adalah menjaga lisan.” (HR. Buchori-Muslim)

Sahabat Muadz bin Jabal ra. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. “Apakah kita ini juga akan diberi balasan karena apa yang kita ucapkan itu, ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Hai Ibnu Jabal, tidakkah manusia-manusia itu akan ditelungkupkan dengan hidungnya terlebih dahulu di neraka, melainkan apa yang dilakukan oleh lidah-lidahnya.” (HR. Hakim)

Untuk mengobati penyakit yang sedemikian itu ialah hendaknya kita menyadari bahwa setiap nafas yang dihembuskan itu adalah pokok harta dan bahwa lisan itu adalah sarana untuk berucap segala kebaikan yang dapat dilakukan oleh kita. Dan ingatlah bahwa malaikat penjaga yang senantiasa mengikuti setiap gerak langkah kita akan selalu mencatat setiap perbuatan dan perilaku kita, termasuk semua pembicaraan kita.Ibnu Mas`ud berkata: “Hai lidah, katakanlah yang baik, engkau pasti memperoleh kemanfaatan, diamlah dari berkata yang buruk, engkau pasti selamat sebelum engkau menyesal.” berbicaralah tentang kebaikan, tentang hikmah, membisikan amar ma`ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia.

Hasbunallah Wani`mal Wakil

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *