Home / Kab. Tasikmalaya / Bupati Cecep Nurul Yakin : Haul Jadi Momentum Meneladani Ulama
IMG_20260427_130644

Bupati Cecep Nurul Yakin : Haul Jadi Momentum Meneladani Ulama

Tasikzone.com – Suasana khidmat menyelimuti halaman Pondok Pesantren Cintawana, saat ribuan jamaah berkumpul dalam Haul Akbar untuk mengenang pendiri KH. Mohammad Toha ke-83 H dan murabby KH. Ishak Farid ke-40 H.

Lantunan doa dan dzikir mengalun, menghadirkan kehangatan spiritual sekaligus kerinduan akan sosok ulama yang telah mewariskan ilmu dan keteladanan.

Di tengah kebersamaan itu, Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, turut hadir, menyatu dengan para santri, alumni, dan masyarakat yang datang dari berbagai penjuru. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi bagian dari penghormatan terhadap jejak panjang perjuangan para ulama.

Bagi banyak jamaah, haul bukan hanya tentang mengenang, melainkan juga merawat nilai. Sosok KH. Mohammad Toha dan KH. Ishak Farid dikenang bukan semata sebagai pendiri dan pengasuh pesantren, tetapi sebagai figur yang menanamkan keikhlasan, keteguhan, dan kecintaan pada ilmu.

“Haul ini bukan sekadar tradisi. Ini adalah momentum untuk meneladani perjuangan dan nilai-nilai keilmuan yang diwariskan para ulama,” ujar Bupati dalam sambutannya.

BACA JUGA   Wabup Tasikmalaya Hadiri Diseminasi Program Ngariung Resik di Desa Sukaasih

Di antara deretan santri yang duduk bersila, para alumni yang pulang membawa cerita, hingga masyarakat yang khusyuk menengadahkan tangan, terasa bahwa Pesantren Cintawana bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuhnya karakter dan spiritualitas.

Bupati juga mengapresiasi konsistensi Pondok Pesantren Cintawana dalam mencetak generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga berdaya dan berkontribusi bagi daerah. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam membangun sumber daya manusia yang berakhlak dan berilmu.

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan pesantren sebagai bagian penting dari pembangunan daerah yang berlandaskan nilai keagamaan.

Kegiatan haul diisi dengan pembacaan doa, dzikir bersama, dan tausiyah yang menguatkan ikatan batin antarjamaah. Di tengah lantunan doa yang syahdu, terselip harapan agar nilai-nilai yang ditanamkan para ulama terus hidup, mengalir dari generasi ke generasi.

Di Cintawana, kenangan tak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam doa, dalam ilmu, dan dalam langkah-langkah kecil para santri yang melanjutkan perjuangan. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *