Home / Sosial & Budaya / Mak Saroh dan Potret Retaknya Tanggung Jawab Pemerintah Kota Tasikmalaya
Picsart_25-11-13_09-38-22-799

Mak Saroh dan Potret Retaknya Tanggung Jawab Pemerintah Kota Tasikmalaya

Tasikzone.com – Di tengah geliat pembangunan Kota Tasikmalaya, masih terselip kisah getir yang seolah luput dari pandangan para pemangku kebijakan. Adalah Mak Saroh, perempuan renta berusia 60 tahun, warga RT 002 RW 013 Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari, yang kini hidup dalam kepedihan sunyi.

Rumah petaknya yang reyot akhirnya roboh. Kini, ia hanya bisa menumpang di rumah kerabat, menanti hari demi hari dengan tubuh lemah yang tak lagi sanggup menopang langkah.

Penyakit yang dideritanya membuat ia kehilangan kemandirian sesuatu yang bagi sebagian orang tampak sepele, namun bagi Mak Saroh adalah harga diri terakhir.

“Saya hanya ingin rumah saya bisa berdiri lagi, agar saya tidak merepotkan saudara,” ujarnya lirih.

Kisah ini mencerminkan ironi, di saat pemerintah kerap bicara tentang pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan sosial, ada warga lansia yang hidup dalam kondisi nyaris tak tersentuh kebijakan.

Beruntung, empati tak sepenuhnya padam. Yayasan Padi Nusantara Sejahtera datang membawa bantuan beras dan uang tunai, secercah harapan di tengah gelapnya perhatian publik.

Namun, bantuan itu hanyalah penambal luka sesaat, belum menyentuh akar persoalan, ketiadaan sistem perlindungan sosial yang benar-benar berpihak pada warga rentan.

BACA JUGA   Aksi Sosial Dadan Tri Yudianto Diakhir Tahun Bagian Paket Sembakk

“Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Padi Nusantara Sejahtera yang telah peduli dengan nasib kami,” kata Mak Saroh dengan mata berkaca-kaca.

Yanuar M. Rifqi, pengurus yayasan, tak menutupi keprihatinannya. Ia berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya segera turun tangan memperbaiki rumah Mak Saroh dan memastikan hak dasar warganya terpenuhi.

“Kami juga berterima kasih kepada Kapolres dan Ketua DPRD Kota Tasikmalaya yang mendukung kegiatan sosial Save Jompo,” ujarnya, seraya menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga.

Namun, sejatinya, tugas menjaga martabat warga lansia bukan semata urusan belas kasih. Ia adalah cermin tanggung jawab negara. Sebab, kesejahteraan bukan hanya tentang pembangunan fisik dan angka statistik, melainkan tentang seberapa jauh pemerintah hadir bagi mereka yang paling lemah.

Kisah Mak Saroh adalah alarm kecil bagi nurani publik, bahwa di balik retorika kemajuan, masih ada rumah yang runtuh bersama mimpi-mimpi tua yang tak sempat ditopang negara. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *