Home / Surat Pembaca / Hadirnya Ketua Umum HMI Cabang Tasik, Melalui Konfercab Ke 37
Hadirnya Ketua Umum HMI Cabang Tasik, Melalui Konfercab Ke 37

Hadirnya Ketua Umum HMI Cabang Tasik, Melalui Konfercab Ke 37

Penulis : Agung Zulviana

 

 

Konferensi cabang ke 37 HMI Cabang Tasikmalaya merupakan satu rangkaian proses penumbuhan potensi dalam berikhtiar selaku insan. Kader yang merupakan tulang punggung organisasi harus memaknai konferensi setingkat cabang dengan yakin bahwa memilih itu bukan dua pilihan ya dan tidak, dan hasilnya bukan menang dan kalah. Tapi sejauh mana semangat optimisme dalam berbuat baik terus tertanam dalam seluruh kualitas citanya, dengan berakhirnya konferensi mengartikan dimulainya aktualisasi yang mesti berwujud pada kecendrungan kebenaran.

Bahwa konfercab itu adalah  tahapan perumusan  amanah oleh kader HMI, maka apapun yang dihasilkan adalah amanah, sehingga amanah itu sudah melekat pada nilai nilai universal perkaderan. Tanggung jawab itu menjadi taklifan kader secara keseluruhan, bukan hanya anggota aktif tapi juga para alumni.

Dengan hadirnya ketua umum baru, saudara fikri Zdulfikar dari Kampus STAI adalah symbol dalam menjalankan amanah. Variabel tercapainya cita tak akan terjamah takala uforia menang dan kalah menjadi satu satunya ukur syukur kita.

Tapi konsepi syukur menurut cak nur lebih dari itu,   berfikir tentang kekurangan dan berikhtiar untuk memperbaikinya. Ketika cak nur terpilih untuk kedua kalinya menjadi ketua umum PB HMI maka ia berujar, kalimat trend nya terngiang sampai saat ini. Ucapan pertama yang keluar ketika ia terpilih menjadi Ketua Umum untuk kedua kalinya adalah *kecelakaan* , untuk apa ,. Dikarenakan tanggung jawab menjadi ketua umum tidak mudah dan tidak pula sulit.

Selain itu, kecelakaan bagi HMI karena tidak ada lagi muncul sosok baru selain dia. Apapun itu, adalah gambaran bagi kita semua tentang pentingnya menjaga amanah.

Ketua umum adalah symbol penjaga amanah, dan penerjemah amanah. Satu PR besar bagi HMI Cabang Tasikmalaya adalah menemukan masalah apa yang sedang terjadi, jikalau tidaklah ditemukan sebetulnya masalah yang ada di HMI maka ternyata itulah masalahnya.

Analogi ketika manusia tidak bisa menemukan jati dirinya maka manusia tersebut akan kehilangan arah, sehingga bukan hanya amanah yang tidak akan terjamah tapi hanya akan menimbulkan amarah bagi entitas lain. Manusia yang sehat adalah bukan manusia yang tidak punya penyakit, manusia yang sehat adalah manusia yang tau akan kekurangan jasmaninya sehingga dia sadar mesti apa yang dilakukan untuk mengobatinya dan kembali sehat. HmI sehat adalah HmI yang amanah tidak amarah , hmi yang selamat adalah hmi yang berjati diri. Hmi yang berjati diri adalah HMI yang turut qur’an dan hadist. Bahagia HMI , Yakin Usaha Sampai.

Profil tentang fikri, Nama Fikri Dzulfikar, asal Kampus STAI Tasikmalaya. Jabatan Sebelumnya adalah Ketua Bidang PTKP, Ketua Umum HmI Komisariat Eksyar Kampus STAI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *