Home / Surat Pembaca / Bahagia Dalam Jeda
siti-nur-aisyah-siswi-man-2-kota-tasikmalaya

Bahagia Dalam Jeda

Penulis : Siti nur aisah siswi MAN 2 Tasikmalaya

Senja mulai memerah, sang raja siang berlalu tanpa malu-malu, langit mengeluarkan rona jingga nya, semburan awan hitam mempercepat kelam, gerombolan angin menyibak daun-daun kering. Klakson kendaraan bersahutan, di ujung taman kampus dengan kursi panjang di naungi pepohonan yang rindang, rania duduk termenung sendiri menyepi seakan menikmati kesunyian alam. Mata sayunya menatap tajam gumpalan awan hitam , pikirannya melayang pada masa lalunya.
3 tahun yang lalu, ya … tiga tahun yang lalu ketika rania lulus dari bangku SMA, dengan berbekal segudang ilmu dan pengalaman semasa sekolah rania siap menyongsong badai masa depan. Tekad serta semangatnya yang membara berkobar bagaikan si jago merah yang mengamuk melalap ribuan rumah, tak pernah padam untuk meneruskan pendidikan yang lebih tinggi ” Universitas”. Namun semua semangat api itu harus padam, ketika sosok terkasih yang selalu menjadi pelita dalam kegelapan hidup rania, wanita yang rania hormati , sosok yang menjadi motivator ulung dalam meredam keluh kesah rania, Ibu tini melarang dan menolak keinginan rania meneruskan pendidikan untuk kuliah.

Kerap kali bu tini menghakimi rania dengan perkataan-perkataan yang menikam hati si gadis manis rania, Melihat reaksi bu tini yang mengecam keinginan rania untuk kuliah, namun rania tetap bersikeras dengan pendiriannya, dan tidak mengindahkan celotehan sang ibu untuk bekerja.
Hingga suatu hari terjadi perdebatan hebat antara ibu tini dan rania, ketika bu tini mengatakan ” Anak macam apa kamu ini rania !? Ibu tidak pernah mendidik kamu menjadi pembangkang !!” . ” Kuliah…kuliah…dan kuliah, uang dari mana ? Ibu tidak sanggup .. menyekolahkan kamu untuk bisa lulus SMA saja, ibu kalang kabut siang dan malam mencari uang untuk biaya kamu… untuk makan sehari-hari saja susah !, harusnya kamu meringankan beban keluarga, lebih baik kamu bekerja saja !!” Bentak bu tini seraya meninggalkan rania.

Rania terdiam, mata sayunya berkaca-kaca dan perlahan meneteskan air mata , hatinya rapuh, pikirannya kacau, pertanyaan datang menikam rania silih berganti dalam hatinya “apa yang harus rania lakukan ?, Maafkan rania bu ?, rania ingin sukses dengan pendidikan supaya bisa membahagiakan ibu, suatu hari nanti rania berharap ibu bisa memahami keinginan dan tekad rania.

Hari demi hari berlalu tanpa pandang bulu, setiap hari kata-kata bu tini selalu terngiang di telinga rania, mencari jalan keluar dan keputusan yang terbaik, tersirat dalam pikiran rania ” pekerjaan layak seperti apa yang akan di dapatkan oleh siswa lulusan SMA ?” Bagaimana memperbaiki nasib keluarga ke depannya ?”, jika kuliah bagaimana dengan ibu ??, Arrkhh…. hati kecil rania berbisik ” Jangan risau , ALloh selalu bersama mu !!!”.
Rania terperanjat dengan sedikit semangat yang masih menyala, rania menyakinkan diri bahwasannya rania bisa kuliah. Dan membuktikan pada bu tini , rania pasti sukses. Bulan demi bulan beejalan mengintari waktu, tes SBMPTN sebentar lagi tiba, pertempuran akan segera di mulai , rania menyakinkan dirinya sendiri ia harus mengikuti tes dan harus lolos masuk perguruan tinggi negeri. Karena bagi rania hanya jalur inilah yang bisa menentukan kuliah dan gambaran masa depan.
Namun ia tersentak dalam pikirannya muncul pertanyaan, “bagaimana membayar uang tes ? Meminta pada ibu rasanya tidak mungkin, yang ada ibu tini akan marah ” bisik hatinya. Berbagai masalah datang silih berganti menggempur rania, rania stres, depresi, seakan baja dengan berat 200 ton menimpanya, badan rania remuk, berdiri dan untuk melangkahkan kaki saja rania tidak mampu. Tes SBMPTN menghitung minggu, di sela kesedihannya Alloh mengirimkan sosok motivator bagi rania, yesi.. sahabat karib rania semasa sekolah di SMA.

Suatu hari yesi berkunjung ke rumah rania, Tok…tok…tok…” Assalamualaikum, rania ?” Sapa yesi. Rania bergegas menghampiri pintu ” ya… tunggu sebentar !!” teriaknya hendak membuka pintu. Rania terkejut orang yang berada di balik pintu adalah sahabat dekatnya, merasa yesi orang yang cocok untuk rania mengadukan segala hal yang selama ini menjadi beban yang terus bersarang di hatinya pada yesi. Setelah sekian lama rania mengutarakan isi hatinya , yesi begitu seksama mendengarkan setiap lantunan kata yang rania ucapkan. Hingga berujung pada pembicaraan yesi memberikan mantra nasihat hidup, yang membuat rania sadar dan bangkit dari keterpurukannya akan beban pikiran. ” kamu memang sangat lemah, tapi kamu harus ingat kamu masih punya kasih sayang dan cahaya Alloh SWT, kejutannya lebih indan dari perkiraan kita, jika kamu sudah menyerah pada nasib , siapa yang akan membela diri kamu ?, selain kamu sendiri , MAN JADDA WAJADA !!!, seru yesi pada rania.

Rani terdiam dan terbuai dengan kata-kata yesi, mata sayunya melelehkan air mata. Minggu berikutnya rania menuruti nasihat yang sahabatnya sarankan. Siang dan malam rania berkeliling dari satu warung nasi ke warung nasi lainnya, membantu mencuci piring. Upah yang rania dapatkan dari jerih payahnya, rania kumpulkan hingga akhirnya rania mampu mrmbayar uang tes SBMPTN, ketika mengikuti tes, rania begitu teliti dan bersungguh-sungguh agar dirinya lolos masuk universitas negeri.

Beberapa minggu setelah tes … hati rania di selimuti kegelisahan, takut, kecewa, bibirnya di basahi lantunan doa yang rania panjatkan pada tuhan. Hingga suatu hari hasil tes SBMPTN sudah keluar.

Di pagi yang cerah di bawah cahaya mentari bibir kecilnya tersenyum, raut wajah rania agak berseri, rania bergegas pergi untuk melihat hasil tes. Sesampainya di tempat tes ,rani menghampiri kerumunan orang-orang yang berkumpul seperti lebah, rania menggerakan jari telunjuknya ke setiap penjuru papan prngumuman berharap namanya tertera di kertas putih papan pengumuman itu. Tiba-tiba jemaeinya terhenti di bagian bawah kertas, RANIA LOLOS ya, namanya tertera di sana.

Rania begitu senang… melompat-lompat kegirangan dan bersujud seraya berkata ” Alhamdulillah yaa RAbb , terimakasih engkau telah mengabulkan keinginan hamba”.
Tiba-tiba suara bernada tinggi menyapa rania” Hai ..rania ayo kita pulang , hari semakin larut !”, teriak yesi pongah. Rani tertegun dari lamunannya dan membalas sapaan yesi ” Hai… iya mari kita pulang yes !” . Semilir angin senja yang menusuk menghantarkan rania dan yesi segera bergegas meninggalkan taman. Rania tersenyum” Sekenario mu sangat indah Yaa Rabb”. Senja semakin memerah dan kembali keperaduannya bersama masa lalu rania.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *