Home / Opini / Bahagia Berbagi Bersama
IMG-20210422-WA0011

Bahagia Berbagi Bersama

Oleh : Rifyal Luthfi MR

Sesungguhnya bahagia itu sederhana, berkumpul bersilaturrahim, makan bersama keluarga, dengan kawan yang sudah lama tidak ketemu lalu dibumbui dengan bercerita kenangan dulu waktu di sekolah masa-masa dibuli oleh kakak tingkat, romantika kisah-kasih disekolah dan banyak sekali yang akan menjadi sebuah pembelajaran dalam cerita kenangan tersebut, kemudian makan bersama dengan guru-guru tercinta itu juga merupakan kebahagiaan, apalagi dalam suasana ramadhan akan menjadikan kebahagiaan yang mengandung keberkahan.

Dalam suasana bulan Ramadhan Istilah buka bersama sangat terdengar familiar karena sudah menjadi kebiasaan rutin pada bulan tersebut dengan bertemunya kawan-kawan mulai dari almamater di Tingkat Madrasah Ibtidaiyah/SD sampai diperguruan tinggi dan tidak ketinggalan teman sekantor atau seperjuangan yang sejatinya buka bersama ini intinya bukan hanya sekedar makan-makan, tetapi secara substansi adalah mengandung makna silaturrahim.

Secara kasat mata itulah gambaran dari buka bersama yang dilakukan oleh orang muslim yang merasakan kanikmatan keberkahan dibulan ramadhan. Namun ada hal yang sangat substansial dari buka bersama itu yakni, dalam definisi penulis bahwa buka bersama itu harus membuka cakrawala bersama terhadap keilmuan yang sudah didapat semenjak menginjakan kaki dari bangku Madrasah Ibtidaiyah/ SD sampai perguruan tinggi bahkan sampai bekerja dan tentunya shering eksperience untuk dijadikan sebagai ibrah atau pembelajaran kehidupan dimasa yang akan datang agar meningkat ke arah yang lebih baik lagi.
Suatu hal yang sangat memerlukan perenungan terhadap makna buka bersama, yakni buka bersama disini dimaksudkan adalah bersama-sama membuka mata, telinga, dan hati dalam seluruh aktivitas dan amalan-amalan kita khusus pada bulan ramadhan agar lebih khusyu menjalankannya.

Secara etika makan bersama dalam nuansa buka bersama mempunyai koridor-koridor tertentu. Dalam kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali ada beberapa adab-adab yang perlu diperhatikan diwaktu makan bersama di antaranya adalah: Pertama, jangan memulai makan dulu apabila ditempat itu ada orang yang lebih berhak untuk dipersilahkan lebih dulu, baik karena usianya yang lebih tua atau kedudukannya lebih utama, kecuali kalau memang dirinya itu sebagai seorang yang menjadi ikatan orang banyak atau memang dikalangan mereka itu ia jualah yang hendak didahulukan. Dan tentunya sebelum dimulai mesti berdo`a dahulu. Hindari badal do`a, artinya doa digantikan dengan sesi foto-foto dan selfi, namun hal tersebut juga tidak apa-apa selama etika sebelum makan dijaga.

Kedua, hendaklah mengingat kawannya yang makan didekatnya, misalnya mengenai lauk pauk yang ada di dalam wadah yang semestinya digunakan untuk bersama. Jadi janganlah kiranya makan melebihi daripada yang semestinya, sebab hal yang demikian ini adalah haram hukumnya, jikalau tidak ada kerelaan kawannya itu, sebab makanan itu diperuntukan orang banyak. Sebaliknya amat baik sekali kalau ia mempunyai maksud hendak mengalahkan diri sendiri dan mengutamakan kawan-kawan yang lain. Jangan kiranya makan dua buah kurma sekaligus, kecuali kalau kawan-kawan yang lainpun berbuat demikian itu pula dan hidangannya cukup banyak, atau sudah mendapatkan izin mereka.

Ketiga, janganlah seseorang itu melihat kawan-kawannya diwaktu makan dan jangan pula meneliti cara mereka makan, sebab mungkin akan memberi malu pada mereka. Jadi sebaiknya ia menundukan matanya dan melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri saja. Selain itu jangan berhenti lebih dulu sebelum kawan-kawannya, sebab akan menyebabkan bahwa merekapun akan berhenti pula dengan terpaksa karena malu untuk meneruskannya. Oleh karena itu, jikalau dilihat bahwa kawan-kawannya masih meneruskan makan dan ia sendiri sudah merasa puas, hendaklah tetap mengambil makanan-makanan itu sedikit sedikit dan dimakannya berlahan-lahan sampai semua sahabatnya itu cukup puas makannya.

Selanjutnya keempat, jangan sekali-kali melakukan sesuatu yang menyebabkan timbulnya kejijikan pada orang lain, baik perkataan maupun perbuatan. Dengan melakukan keempat pesan di atas, keberkahan dalam buka bersama dan keberetikaan di dalamnya akan membawa kenikmatan dan kemaslahatan dalam silaturrahim.

Ingat, orang sukses yang mencapai ke titik tertinggi belum tentu dikatakan bahagia, namun orang yang bahagia berarti dia sukses dalam kehidupan. Bahagia itu indah, dan keindahan dimulai dengan mengikuti sunah rasul dalam menjalankannya. Bahagia itu sederhana, maka carilah kesederhanaan dalam mencapai kebahagiaan. Karena kemewahan dan kesuksesan belum tentu dikatakan bahagia, kalau tidak diikuti dengan rasa syukur kepada Allah yang memberi kabahagiaan. Namun juga ketika kebahagiaan dicari dengan tidak Lillah, maka akan menghasilkan kelelahan.

Hasbunallah wani`mal wakil

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!