Home / Opini / Mengapa Laut China Selatan Diperebutkan ? Melihat Lewat Kacamata Sea Power Mahan
IMG-20251128-WA0016

Mengapa Laut China Selatan Diperebutkan ? Melihat Lewat Kacamata Sea Power Mahan

0leh: Siti Zahra Nuraeni Latifah
Mahasiswa Universitas Siliwangi

Tasikzone.com – Laut China Selatan sudah lama dikenal sebagai salah satu kawasan paling strategis di dunia. Dari permukaan, wilayah ini memang hanya terlihat sebagai lautan luas dengan gugusan pulau dan juga karang kecil. Namun siapa sangka? Dibalik itu, Laut China Selatan memilki nilai ekonomi, militer, dan geopolitik yang sangat tinggi.

Sangat tidak heran jika kawaan ini kemudian diperebutkan oleh banyak negara, mulai dari Tiongkok, Amerika Serikat, Malaysia, dan masih banyak lagi.
Untuk memahami mengapa perebutan ini berlangsung sengit dan tidak kunjung selesai sehingga menjadi konflik berkepanjangan, teori Sea Power dari Alfred Thayler Mahan akan memberikan penjelasan yang cukup relevan.

Dimana teori ini menempatkan kekuatan laut sebagai unsur penting dalam menentukan posisi strategis sebuah negara di dunia.

Lebih dari sepertiga perdagangan global melintasi Laut China Selatan sebagai jalur perdagangan mereka. Jalur energi dari Timur Tengah menuju negara-negara Asia Timur pun Sebagian besar melewati Kawasan ini. Yang mana artinya, setiap gangguan terhadap stabilitas di laut ini dapat berdampak langsung pada stabilitas perekonomian Kawasan Asia, bahkan dunia.

Diluar konteks jalur perdagangan, Laut China Selatan juga menyimpan potensi sumber daya energi seperti minyak dan gas, serta sumber daya perikanan yang cukup besar. Kombinasi nilai ekonomidan posisi strategis menjadikan wilayah ini sangat penting bagi negara-negara pesisir maupun negara besar yang bergantung pada arus perdagangan internasional.
Teori Sea Power yang dikemukakan oleh Mahan menekankan bahwa negara yang mampu menguasai laut, entah itu melalui armada, pangkalan militer, maupun kontrol jalur perdagangan, akan memiliki keunggulan dalam konteks ekonomi dan politik.

Mahan menyebutkan tiga hal penting yaitu yang pertama, Jalur perdagangan laut adalah sumber kekuatan ekoomi. Kemudian pangkalan laut dan titik strategis akan menentukan kemampuan sebuah negara dalam mengamankan kepentingannya.

BACA JUGA   Pentingnya Menghadirkan Rasa Aman Bagi Tumbuh Kembang Anak

Dan yang terakhir, kekuatan armada menjadi alat unuk mempertahankan dan emperluas pengaruh. Jika tiga prinsip ini diterapkan pada Laut China Selatan, terlihat jelas bahwa perebutan wilayah bukan hanya tentang batas territorial semata, tetapi terkait kontrol terhadap jalur utama perdagangan global.

Amerika Serikat melihat Kawasan ini sebagai bagian penting dari strategi maritim globalnya. Amerika kemudian mendorong prinsip freedom of navigation dengan tujuan untuk memastikan tidak ada negara Tunggal yang mendominasi jalur laut internasional.

Kehadiran kapal perang AS di Kawasan ini dapat dilihat sebagai implementasi langsung dari pandangan Mahan bahwa laut harus tetap terbuka bagi perdagangan internasional yang bebas. Sementara itu, negara-negara ASEAN memiliki kepentingan yang lebih langsung.

Sebagian wilayahnya Laut China Seelatan bersinggungan dengan zona ekonomi eksklusif mereka. Meski demikian, posisi politik ASEAN tidak melulu solid karena hubungan ekonomi setiap negara dengan Tiongkok berbeda-beda. Faktor inilah yang kemudian menyebabkan Upaya penyelesaian konflik sering terhambat.

Maka, boleh dikatakan bahwa dalam kacamata Sea Power Mahan, perebutan Laut China Selatan ini mencerminkan persaingan klasik antarnegara dalam menguasai jalur laut strategis, dimana masing-masing negara mempunyai kepentingannya sendiri.

Tiongkok berusaha memperkuat posisi maritimnya untuk mendukung ambisi ekonomi dan geopolitiknya. Amerika Serikat mempertahankan kehadirannya untuk menjaga keterbukaan jalur perdagangan sekaligus membendung dominasi Tiongkok. Sedangkan negara-negara ASEAN berusaha mempertahankan klaim teritorial sambil menjaga stabilitas regional.

Konflik ini berlangsung bukan hanya karena tumpang tindih klaim wilayah, tetapi karena kawasan ini adalah titik krusial dalam jaringan perdagangan dunia. Selama perdagangan global masih bergantung pada rute ini, Laut China Selatan akan tetap menjadi arena persaingan strategis.

Referensi : berbagai Sumber

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *