Home / Opini / TIPS Membongkar Kepribadian !
PhotoGrid_1555312360642

TIPS Membongkar Kepribadian !

Oleh Rifyal Luthfi MR.

Dalam sebuah tulisan sederhana yang disampaikan oleh seorang ulama besar dan negarawan kharismatik, yakni Buya Hamka rahimahullah tertera pesan yang sangat luar biasa, dan penulis menyimpulkan dengan sebuah pertanyaan seperti apakah sebenarnya diri ini? Pertanyaan ini bisa diajukan baik untuk diri saya, anda dan kita!

Seringkali kita membicarakan orang yang kita cintai dan hormati atau juga yang telah berpisah dengan kita. Kita ingat segala kebaikannya dan tidak ketinggalan juga kita membicarakan kelemahannya.

Ada beberapa formulasi untuk mengetahui sejauhmana dan sebarapa besar kita mengenali kepribadian diri, maka marilah kita kaji secara singkat dalam nuansa empiris.

Perangainya halus, hatinya suci, sikapnya jujur, perkataannya teratur, dan budinya mulia. Kelakuannya baik, mukanya jernih, karena memandang hidup dengan penuh pengharapan dan tidak pernah putus ass. Apa yang diyakininya, itulah yang dikatatakannya, apa yang dikatakannya itulah yang diyakininya. Karena itu, kita mengambil kesimpulan bahwa dia seorang “Budiman” .

Dia cerdas, akalnya tajam, buah pikirannya baik, dan diapun cepat mengambil kesimpulan, terang otaknya, luas pendangannya, dan jauh tiliknya. Kerena itu, kita katakan bahwa ia “Cerdas”.

Dia suka bergaul, suka menolong, tidak menyisih dari masyarakat, tidak memikirkan kepentingan sendiri atau keluarga saja, tidak gila pangkat dan jabatan, mengerti kedudukan orang lain, dan merasa dirinya ikut dalam kedudukan itu. hormat kepada yang tua, kasih kepada yang muda, pandai bergaul, pandai berkawan. Kita gelarilah dia dengan gelar “ Bermasyarakat” .

Tubuhnya sehat, mukanya berseri-seri karena kesehatan tubuh dan jiwanya. Pakaiannya bersih karena kebersihan hatinya. Dia gemar berolahraga untuk kesehatan tubuh dan untuk nurtrisi bathinnya dia banyak berdzikir kepada Allah. Dan kita namai dia orang “Sehat”.

Pemahamannya luas, penyelidikannnya dan penelitiannya dalam, bacaannya banyak. Karena itu, banyak yang diketahuinya sehingga dia tidak merasa canggung dalam pergaulan dengan segala lapisan. Oleh karena ada pengetahuannya dalam suatu hal, dia bertanggungjawab. Kita namai dia orang yang “cerdik pandai”.

Semuanya, yaitu budi, akal, pergaulan, kesehatan, dan pengetahuan bermasyarakat menjadi satu pada seseorang. Kumpulan itulah yang membentuk suatu, yakni “pribadi”. Lemah atau kuat, berlebih atau berkurang dari segala yang disebutkan itu menyebabkan kelemahan, kekuatan, kelebihan ataupun kekurangan pribadinya, maka itulah yang menentukan “Mutu seseorang”.

Dalam tulisannnya pula dikupas sebuah analogi, yaitu dua puluh ekor kerbau yang sama gemuk, sama kuat dan sama pula kepandaiannya menarik pedati, tentu harganya tidak jauh beda. Akan tetapi, dua puluh manusia yang sama tinggi dan sama kuat, belum tentu sama “harganya”. Sebab bagi kerbau tubuhnya saja yang sama berharga. Namun bagi manusia adalah pribadinya.

Orang yang berilmu saja walaupun ia sangat ahli dalam satu bidang belum tentu berharga dan belum tentu memperoleh kekayaan dalam hidup apabila sekiranya bahan pribadinya yang lain tidak lengkap atau tidak kuat, terutama dalam budi dan akhlaknya.

Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, magister, doktor dan orang yang memiliki banyak koleksi buku serta gelar sarjananya segulung, dalam masyarakat dia menjadi mati sebab dia bukan “orang masyarakat/bermasyarakat”. Hidupnya hanya mementingkan diri sendiri dan hanya untuk mencari harta. Hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita selain kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat, karena dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Dan kepandaiannya yang banyak seringkali menimbulkan ketakutan, bukan menimbulkan keberanian untuk memasuki dan menjalani hidup.

Jangan disangka bahwa pribadi yang besar dan kuat hanya semata-mata memakai sifat yang terpuji saja. Namun kebalikannya, bertambah besar pribadi seseorang maka akan bertambah jelas letak kelemahan dan kekurangannya. Orang Arab berkata, “idzaa tamma syai`un badaa naqshuhu”, yang berarti apabila sesuatu telah sempurna, jelaslah kekurangannya.

Hal itu sangat penting! Jika kita berkawan atau bersahabat dengan seseorang, maka kita ketahui bahwa sebagai manusia dia harus mempunyai satu sisi yang dipenuhi perasaan kasih sayang semata dan disisi lain harus mempunyai tanggungjawab untuk saling mengingatkan dalam hal kebenaran serta mengajak tuk bersabar. Dan hanya orang bodoh saja yang dipenuhi perasaan sentimen. Apabila ia disayang, ia lupa segala kesalahan dan apabila ia berani, iapun lupa segala kebajikan.

Ternyata bukan hal yang mudah untuk mengupas dan mengenali pribadi, hal itu termasuk perkara yang ghaib yang hanya ditunjukkan bekasnya, tetapi tidak dapat diraba barangnya.

“ PRIBADI SESEORANG DAPAT DIKETAHUI SETELAH MELIHAT PERJALANAN HIDUPNYA
DAN REKAM JEJAK USAHANYA.”

Hasbunallah Wani`mal wakil.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *