Home / Pendidikan / Gratiskan Biaya Untuk Santri, Perjuangan Pondok Pesantren Ini Beberapa Kali Berpindah Mukim
IMG_20220412_224534

Gratiskan Biaya Untuk Santri, Perjuangan Pondok Pesantren Ini Beberapa Kali Berpindah Mukim

Kota Tasikmalaya, tasikzone.com – Pondok Pesantren Yatim Dan Dhuafa Mah’ad Bilal Bin Robah kini berpindah Mukin, Semula Pondok Pesantren beralamat di Desa Cisayong Kabupaten Tasikmalaya kini berpindah ke Jl.KH.Muhammad Syuja’i No.69 B, Bojong Kidul, Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Perjuangan Pimpinan Pondok Pesantren ingin memiliki Pesantren permanen tidak mudah, Dari awal mendirikan 2019 lalu Pesantren ini sudah 3 Kali pindah mukim. Karena keterbatasan Biaya yang dimiliki, Santri yang Mondok disini tidak dibebankan biaya.

Sebelum menjadi Yayasan Yatim Dan Dhuafa Mah’ad Bilal Bin Robah Pesantren ini dibawah naungan Yayasan Jamiyatul Abror Al Gaza sekitar 2020 lalu dengan diberikan berupa SK tentang pengkatan Pengurus Mah’ad Bilal Bin Robah.

Ada Usulan Agar bisa mandiri akhirnya menjadi 2021 mandiri dengan mendirikan Yayasan dengan nama Yayaysan Mah’ad Bilal Bin Robah.

“Datang Ke Tasik 20 Agustus 2019 lalu Mengajar mengaji di Purbaratu mulai ada santri yang ada diluar Kota Yatim Piatu dan Dhuafa, Karena Santri semakin banyak, akhirnya perlu bangunan. Dan bertemu dengan H Aas Hasbuna (alm), Kami diberikan fasilitas di Desa Sukajadi untuk bisa dikelola oleh Pesantren dan diberikan SK oleh Yayasan Gaza”tutur Ustad Mahmud Sidiq kepada wartawan, Selasa (12/04/2022)

Disana aktifitas Santri terus berjalan, Sampai ada seseorang yang selalu ikut mengaji di Pesantren memberikan Tanah seluas kira 530 Meter/Segi Wakaf berupa Kolam dan kebun.

akhirnya tanah tersebut di kelola oleh santri, awalnya memakai terpal untuk aktifitas santri hingga Siang malam berbenah membangun dulu untuk asrama selama satu bulan. jadilah asrama semi permanen dengan Ukuran 13×7 meter.

BACA JUGA   UMTAS Mewisuda 291 Mahasiswa, Begini Pesan Rektor

“Setelah jadi asrama fokus membangun Kamar Mandi, ada 6 pintu, tempat Wudhu 10 keran dan dilanjutkan Dapur ukuran 7×4. Lalu selanjutnya Masjid pemanen dengan ukuran 13×13 meter”Ucapnya

Adapun dana pengelolaan Pesantren didapatnya dari Donatur yang disebar melalui Website Pesantren.

“Dari Website pesantren kita sahre dari media sosial, kita belum pernah bawa proposal dan Kotak, Kita menghimpun donatur dari Online, sampai ada Orang tasik yang kerja di Australia memberikan Bantuan untuk Masjid” Jelas Alumni Pesantren Miftahul Huda tahun 1994 Cabang Cilacap ini

Di pesantren ini terdapat Santri putri 18 orang, santri Putra 33 orang, sedangkan untuk pengurus 5 orang di santri Putra dan 3 orang putri.

Pola pembelajaran pun ada 3 Tingkatan
Pertama Hafalan Alquran dan Hafalan Matan kitab Tajwid selama 1 Tahun.
tingkat kedua belajar ilmu nahu dan sorof sampai selesai satu tahun. Tingkat ketiga fokus ke pendalaman kitab dari kitab Fiqih, Tauhid dll.

“Pesantren kami juga tidak terlepas di Pendidikan Formal, untuk sekarang kami Kerja sama dengan salah satu Madrasah Aliyah di Tasikmalaya” Tandansya

Pesantren yang sudah dirintis dari tanah Wakaf tersebut, dan dibangun dari Mulai Tanah Kolam dan kebun hingga kini berada bangunan Masjid, Asrama dan Dapur Pesantren harus rela ditinggalkan.

“Ada Sedikit Permasalahan, namun saya enggan menyampaikannya, yang penting ada tempat untuk para santri menimba ilmu, Alhamdulillah disyukuri ada donatur yang meminjamkan Tempat untuk para santri” Pungkasnya

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *