Home / Peristiwa / Tenda Dibongkar, Kritik Membesar di Balai Kota Tasikmalaya
IMG_20260407_145618

Tenda Dibongkar, Kritik Membesar di Balai Kota Tasikmalaya

Tasikzone.com – Pembongkaran tenda perjuangan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di depan Balai Kota Tasikmalaya, Senin (6/4/2026), tak berlangsung lama sebagai simbol penertiban.

Esoknya, tenda serupa kembali berdiri. Kali ini, bukan hanya tenda pagar Balai Kota justru dikepung spanduk kritik, bahkan jemuran pakaian ikut dipasang sebagai bentuk sindiran terbuka terhadap pemerintah kota.

Aksi saling respons antara aparat dan aktivis ini menyingkap persoalan yang lebih dalam tudingan tebang pilih dalam penegakan aturan.

Iwan Restiawan dari Komunitas Rakyat Peduli Lingkungan menilai langkah Satpol PP mencabut tenda justru memperlihatkan inkonsistensi Pemerintah Kota Tasikmalaya.

“Kalau memang serius menegakkan aturan, jangan hanya tenda kami yang dibongkar. Bongkar juga bangunan di atas sungai, beri sanksi tegas kepada pengusaha yang diduga menyerobot Laha negara, dan evaluasi ASN yang minim produktivitas,” ujarnya. Kepada wartawan, Selasa (07/04/2026)

Ia juga menyoroti sikap Wali Kota Tasikmalaya yang dinilai mengabaikan rekomendasi DPRD dalam polemik yang tengah mereka suarakan. Yaitu, dugaan Hilangnya Eks Saluran Irigasi akibat pembangunan Lapang Padel For You.

BACA JUGA   Di Tasikmalaya Mini Bus Berlogo Parpol Tabrak Sepeda Motor

“Buat apa bicara estetika kota, kalau menghormati DPRD sebagai representasi rakyat saja tidak dilakukan ?” kata Iwan.

Menurutnya, substansi persoalan bukan sekadar keberadaan tenda, melainkan dugaan pelanggaran dalam pembangunan Lapangan Padel For You Padel yang berdiri di atas eks aliran sungai. Ia mendesak agar Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dicabut dan bangunan tersebut dibongkar.

“Kami akan terus melakukan aksi stasioner, memasang tenda di depan kantor wali kota sampai persoalan ini terang benderang. Apa pun risikonya, kami siap. Membela kebenaran di hadapan penguasa yang zalim adalah bagian dari jihad fisabilillah bagi kami,” tegasnya.

Di tengah klaim penertiban demi ketertiban dan estetika kota, publik kini dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendasar, apakah hukum benar-benar ditegakkan, atau sekadar diterapkan pada mereka yang paling mudah ditertibkan ? (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *