Home / Opini / Tantangan Geopolitik Indonesia : Jurang Ketimpangan Ekonomi dan Kualitas Sumber Daya Manusia
IMG-20251128-WA0013

Tantangan Geopolitik Indonesia : Jurang Ketimpangan Ekonomi dan Kualitas Sumber Daya Manusia

Oleh : Dea Amelia Ristiani
Mahasiswa Universitas Siliwangi

Tasikzone.com – Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, berada di persimpangan strategis Indo-Pasifik yang semakin kompetitif. Dengan persaingan antara Amerika Serikat dan China yang memanas, serta dinamika ASEAN yang kompleks, Indonesia harus menjaga stabilitas internal untuk memperkuat posisi geopolitiknya. Namun, jurang ketimpangan ekonomi dengan angka ketimpangan nasional mencapai 0.37 pada tahun 2022 dan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti skor PISA yang berada di bawah tara-rata global menjadi ancaman serius.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ketimpangan ini tidak hanya memperlambat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengancam keutuhan nasional di tengah tekanan eksternal.

Rudolf Kjellen, ahli geopolitik Swedia pada awal abad ke-20 mengembangkan teori “Negara sebagai Organisme Politik”. Kjellen mengibaratkan negara seperti makhluk hidup yang hanya bisa bertahan jika empat unsur pentingnya seimbang, yaitu wilayah (raum), penduduk (volk), ekonomi (wirtschaft), dan kekuatan politik (macht).

Begitu salah satu rapuh, negara bisa gampang terguncang, entah itu oleh masalah dalam negeri atau tekanan dari luar. Jika di Tarik ke Indonesia, masalah ketimpangan ekonomi dan kualitas SDM yang masih rendah seperti menunjukkan bahwa organisme negara kita sedang “kurang sehat”. Ekonomi yang timpang membuat banyak daerah tertinggal, dan SDM yang belum merata kualitasnya bikin daya saing jadi lemah. Dampaknya bukan hanya terasa di dalam negeri, tetapi juga bisa mempengaruhi posisi Indonesia di Kawasan Indo-Pasifik yang saat ini persaingannya sangat ketat.

Ketimpangan ekonomi di Indonesia bukan hanya soal perbedaan penghasilan antara kelompok masyarakat. Masalah ini juga terlihat dari masih sulitnya sebagian warga mendapatkan pendidikan yang layak, layanan kesehatan yang memadai, serta kesempatan ekonomi yang adil. Selama ketimpangan ini terus melebar, dampaknya tidak berhenti pada isu kesejahteraan semata, tetapi juga dapat berubah menjadi persoalan geopolitik yang serius.

PBD per kapita di Jawa mencapai 10 juta rupiah per bulan, sementara di wilayah timur seperti Papua hanya separuhnya, menurut data Word Bank 2023. Kondisi ini menciptakan jurang ketimpangan yang membuat “organisme” negara kita semakin rapuh. Ketika sumber daya dan pembangunan hanya terpusat di wilayah tertentu, daerah pinggiran menjadi rentan terhadap tekanan dan kepentingan asing.

Dalam kacamata geopolitik, ketimpangan seperti ini juga melemahkan kemampuan diplomasi dan pertahanan negara, karena pemerintah harus menghabiskan banyak energi dan anggaran untuk mengatasi persoalan di dalam negeri, alih-alih memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama kawasan. Jika masalah ini terus dibiarkan, Indonesia berisiko menjadi negara yang mudah di pengaruhi oleh kekuatan besar, termasuk melalui investasi strategis dari negara seperti China.

Kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia masih dipengaruhi oleh banyak hal, terutama pendidikan, kesehatan, dan lingkungan sosial. Data BPS tahun 2023 menunjukkan bahwa Indek Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di posisi 114 dunia, sebuah peringkat yang relative rendah dan kemungkinan masih tertinggal dari beberpa negara tetangga. Kondisi ini semakin terlihat Ketika kita melihat fakta bahwa hanya sekitar 10 persen penduduk Indonesia yang menempuh Pendidikan hingga perguruan tinggi, sementara angka stunting pada anak masih berada di kisaran 21 persen menurut laoran BPS 2022.

BACA JUGA   Pembelian Mobil Dinas Toyota Zenix oleh BPKAD Kota Tasikmalaya Tuai Kritik Pedas PMII

Situasi ini bukan hanya menjadi persoalan pembangunan, tetapi juga titik lemah dalam kancah geopolitik. Ini seperti “darah” organisme yang tidak sehat, menghambat inovasi dan produktivitas yang diperlukan untuk bersaing dengan negara tetangga seperti Vietnam, yang memiliki SDM lebih kuat. Teori Kjellen menekankan bahwa penduduk yang lemah membuat seluruh negara rentan, sehingga Indnesia perlu menyembuhkn SDM ini untuk menjadi pemain geopolitik yang Tangguh.

Papua merupakan contoh kasus ekstrem dari jurang ketimpangan ini. Papua adalah provinsi di Indonesia yang dikenal dengan sumber daya alamnya, terutama di sektor pertambangan, kehutanan, dan perikanan. Ekonomi Papua menglami pertumbuhan positif selama 2025, dengan pertumbuhan triwulan III sebesar 4,21 persen. Meskipun pertumbuhan ekonomi relative kuat dan didukung oleh investasi dan ekspor, ketimpangan ekonomi tetap menjadi masalah signifikan.

Penduduk asli Papua memiliki PDB per kapita yang rendah, sekitar 5 juta rupiah per bulan, jauh di bawah rata-rata nasional. Kualitas SDM masih rendah dengan pendidikan dasar seitar 60 persen dan masalah Kesehatan seperti stunting mencapai 30 persen. Dalam kerangka teori Kjellen, Papua seperti organ yang sakit dalam organisme Indonesia, dimana eksploitasi ekonomi tanpa pembangunan manusia menimbulkan ketidakpuasan yang memicu separatism dan konflik. Ini bukan hanya masalah lokal, melainkan ancaman geopolitik yang mengundang intervensi asing.

Untuk itu, Indonesia kiranya perlu mengambil langkah serius dalam menghadapi persoalan ini, sesuai kerangka teori Kjellen tentang negara sebagai “organisme” yang harus dijaga keseimbangannya, pemerintah harus memperbaiki penyebaran sumber daya agar tidak hanya menumpuk di wilayah tertentu saja. Investasi pada peningkatan kualitas SDM, misalnya melalui pendidikan yang lebih mudah diakses dan kesehatan yang lebih merata.

Upaya mengurangi ketimpangan ekonomi juga dapat dilakukan dengan memperbaiki pengelolaan dana otonomi khusus, termasuk untuk Papua agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Jurang ketimpangan ekonomi dan kualitas SDM adalah tantangan geopolitik utama yang mengancam kesehatan Indonesia sebagai organisme politik, seperti yang digambarkan Rudolf Kjellen. Jika tidak diatasi, negara ini akan tetap rentan terhadap ancaman dalam negeri maupun tekanan dari luar, dan beresiko tertinggal dalam persaingan di kawasan Indo-Pasifik.

Tetapi, ada peluang besar untuk berubah. Dengan komitmen pada pembangunan yang lebih merata terutama di wilayah seperti Papua. Indonesia bisa memperkuat kembali pondasinya dan menjadi negara yang lebih stabil serta dihormati di tingkat nasional. Masa depan geopolitik Indnesia sangat bergantung pada kemampuan kita menjaga Kesehatan organisme negara ini.

Referensi Berbagai Sumber

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *