Oleh : Rifyal Lutfi MR
Tasikzone.com – Salah satu Darma dalam pamuka yang menjadi fundamantal adalah melakukan tazkiyatun nafs (pensucian diri) melalui berbagai kegiatan dalam kepramukaan yang dibalut dengan attitude atau akhlak yang baik sehingga output dari kegiatan pramuka adalah bagaimana kita kembali kepada fitrah (kesucian) sebagaimana bayi yang baru dilahirkan dalam keadaan putih suci bersih wangi tanpa dosa.
Sebagaimana pesan mulia yang disampaikan oleh imam syafii “Jika engkau melihat seseorang yang lebih tua darimu, maka muliakanlah dia dan katakanlah (dalam hatimu), ‘Orang ini telah beribadah kepada Allah lebih lama dariku, maka dia lebih baik dariku’.
Jika engkau melihat seseorang yang lebih muda darimu, maka muliakanlah dia dan katakanlah, ‘Aku telah berbuat dosa kepada Allah lebih banyak darinya, sedangkan dia lebih sedikit dosanya dariku, maka dia lebih baik dariku’.
Jika engkau melihat seseorang yang sepadan denganmu, maka muliakanlah dia dan katakanlah, ‘Amalanku tersembunyi, sedangkan amalannya mungkin lebih ikhlas dariku.”
inilah pesan moral bagi setiap anggota yang memandang orang lain lebih baik dari dirinya, kemudian menjadikan diri kita merendahkan diri di hadapan Allah swt, merendahkan hati dihadapan sesama (Tawadhu).
Selanjutnya suci dalam perkataan, seyogianya kita sebagai manusia yang sering salah dan lupa (Khoto wanisyan) jelas harus berusaha berikhtiar semaksimal mungkin agar menjaga pembicaraan kita lebih baik, sopan santun tatakrama yang baik sehingga dalam keterangan bahwa selamatnya manusia tergantung dalam menjaga lisannya (salamatul insan fi hifzilisan).
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari)
Melalui kegiatan kepramukaan dalam penggunaan bahasa haruslah dengan bahasa yang baik, yakni dengan bahasa yang tidak berkata bohong, mencerca, mendholimi, menyakiti hati, membentak, memfitnah dan sebagainya. Dalam pengujian mentalpun boleh saja tegas dalam bahasa, namun tidak kasar dan tidak menimbulkan kebencian.
Sehingga kata-kata tersebut dapat berakibat buruk terhadap karekter seorang pramuka.
Begitupun keselarasan pikiran ucapan mesti berimplikasi kepada perbuatan. Jadi pensucian diri (tazkiyatrunnafs) ini berimplikasi pada perbuatan yang baik pula.
Maka dari itu sebagai seorang anggota pramuka harus menjadi contoh atau teladan yang baik bagi peserta didik dan anggota yang lainnya melalui perbuatan yang sesuai dengan etika dan kesopan santunan serta tuntunan agama. Inilah bukti keimanan yang teraktualisasikan dalam pendidikan kepramukaan.
Salah satu contoh penerapan dan berperilaku tersebut bisa dilakukan sebelum kegiatan dimulai yakni setiap anggota pramuka harus mempunyai Wudu terlebih dahulu, hal ini dikarenakan dalam rangka untuk mencari keilmuan baik soft skill ataupun hard skill harus dalam keadaan suci (mempunyai wudu) sebab kita tahu bahwa keilmuan yang baik itu suci, maka jika kita dalam keadaan suci, maka akan mempermudah fahamnya keilmuan tersebut dikarenakan diri kita pun suci.
Artinya apapun kegiatan kepramukaan setiap anggotanya haruslah dalam keadaan suci, artinya harus selalu mendawamkan wudu.
Ayat tersebut jadikanlah sebagai prinsip dalam meniti pendidikan kepramukaan untuk merubah pola sikap dan pola pikir setiap anggota pramuka ke arah yang lebih baik dari hari kehari melalui berkata baik dan benar, tidak pernah meyusahkan dan mengganggu orang lain, serta berbuat baik kepada semua orang.
“ Andaikan seorang hamba mengetahui maksud indah dibalik taqdir yg Allah tetapkan, niscaya dia akan menangis malu karena prasangka buruk kepada Allah” -Syaikh As Sya`rawi-.
Tasik Zone Kreativitas Muda Untuk Indonesia