Home / Sosial & Budaya / Potret Kemiskinan Kota Tasikmalaya: Ma Oneng, Lansia Lumpuh yang Hidup Terlupakan
Yayasan PNS saat memberikan Bantuan beberapa waktu lalu
Yayasan PNS saat memberikan Bantuan beberapa waktu lalu

Potret Kemiskinan Kota Tasikmalaya: Ma Oneng, Lansia Lumpuh yang Hidup Terlupakan

Tasikzone.com – Di tengah gembar gembor laporan keberhasilan, dan pidato tentang kesejahteraan di Kota Tasikmalaya, ada satu kenyataan pahit yang berdiri tegak namun tak pernah benar-benar dilihat oleh para pemangku kebijakan.

Kenyataan itu bernama Ma Oneng, seorang lansia berusia 70 tahun yang lumpuh, hidup di rumah bukan miliknya, bersama anaknya yang juga menyandang disabilitas.

Di Kampung Pangkalan, Kelurahan Karikil, Kecamatan Mangkubumi, kehidupan mereka berjalan sunyi. Sunyi dari perhatian, sunyi dari perlindungan, sunyi dari uluran tangan pemerintah yang seharusnya hadir paling awal.

Undang-undang jelas menyebutkan bahwa lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat sangat miskin adalah kelompok prioritas yang wajib dilindungi negara. Namun di Tasikmalaya, amanat hukum seolah hanya menjadi kalimat manis dalam dokumen, bukan tindakan.

Sebab faktanya, bantuan pertama yang datang ke rumah tempat Ma Oneng hidup bukan dari pemerintah melainkan dari Yayasan Padi Nusantara Sejahtera. Sebuah yayasan yang berjalan dengan semangat kerelawanan, bukan dengan anggaran miliaran rupiah seperti yang dimiliki pemerintah daerah.

Yayasan itu membawa satu karung beras dan sedikit uang tunai. Terlihat sederhana, tetapi bagi Ma Oneng, itu adalah nyawa. Bagi yayasan, itu adalah bentuk cinta. Namun bagi pemerintah, ini seharusnya menjadi tamparan paling keras.

Relawan Yayasan Padi Nusantara Sejahtera, Yanuar M. Rifqi, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya saat melihat kondisi Ma Oneng.

BACA JUGA   Penyaluran Bantuan Gubernur Jadi Polemik, Komisi IV Pinta Kedepan Libatkan Ketua RT & RW

“Kondisinya sangat mengiris hati. Beliau lumpuh, tinggal dengan anak yang disabilitas, tapi tidak ada bantuan dari pemerintah. Ini bukan sekadar kekurangan anggaran, tetapi kekurangan kepedulian. Padahal negara punya kewajiban hukum untuk mengurus warga seperti Ma Oneng,” ungkapnya dengan suara penuh penegasan.

Lanjutnya, relawan membantu semampu dan tidak bisa menggantikan tugas negara. Pemerintah harus turun, pemerintah harus melihat, pemerintah harus bertindak.

Yang membuat hati semakin pilu, Ma Oneng sering kali hanya bisa berbaring, menunggu hari berganti, tanpa tahu apakah ada yang datang membantu atau tidak.

Jika seorang lansia lumpuh dan anak disabilitas saja tidak terjangkau oleh sistem bantuan, lalu untuk siapa sebenarnya program-program itu dibuat?

Ini bukan lagi persoalan administrasi.
Bukan soal data yang “terlewat”.
Ini soal nyawa manusia yang dibiarkan berjalan sendiri tanpa kepastian.

Yanuar menegaskan bahwa kisah Ma Oneng hanyalah satu dari banyak potret kemiskinan ekstrem di Tasikmalaya yang tidak muncul ke permukaan.

“Kami sering menemukan kasus seperti ini. Mereka yang paling membutuhkan justru paling sering tak tersentuh. Pemerintah harus membuka mata. Jangan tunggu viral dulu, baru bergerak. Negara itu ada untuk melindungi. Bukan hanya hadir saat seremoni.”tandasnya (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *