Home / Sosial & Budaya / Mak Emin, Lansia Terlupakan dalam Data Pemerintah Kota Tasikmalaya
IMG-20251228-WA0006

Mak Emin, Lansia Terlupakan dalam Data Pemerintah Kota Tasikmalaya

Tasikzone.com – Di sebuah sudut Kota Tasikmalaya, tepatnya di Kelurahan Karsamenak Kecamatan Kawalu Mak Emin (79) menjalani hari-harinya dalam sunyi.

Lansia yang menderita stroke itu hanya bisa terbaring, menggantungkan hidup sepenuhnya pada anaknya yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi. Di tengah kondisi tersebut, kehadiran pemerintah justru terasa jauh dan tak pernah benar-benar sampai.

Setiap hari, kebutuhan makan Mak Emin bergantung pada uluran tangan sang anak, yang harus berjuang sendiri di tengah serba kekurangan. Tak ada bantuan rutin, tak ada sentuhan program sosial yang seharusnya hadir untuk warga lanjut usia dengan kondisi sakit dan tak berdaya.

Ironisnya, bantuan justru datang dari pihak yang tidak memiliki kewajiban formal. Relawan Yayasan Padi Nusantara Sejahtera*menyambangi rumah Mak Emin, membawa beras dan uang tunai—bantuan sederhana yang menjadi harapan besar untuk bertahan hidup.

“Ini bantuan kecil, tapi semoga bisa meringankan,” ujar Yanuar M Rifqi, minggu (28/12/2025)

Ia tak menampik rasa prihatin melihat kondisi Mak Emin yang luput dari perhatian pemerintah.

BACA JUGA   Siti Mufattahah Komisi VIII DPR RI Kunjungi Jompo di Kab Tasik

Menurut Yanuar, apa yang dialami Mak Emin hanyalah satu dari sekian banyak potret warga yang membutuhkan, namun belum tersentuh bantuan. Ia berharap Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, bisa lebih peka terhadap kondisi masyarakat di lapangan.

“Kalau tidak bisa turun langsung, setidaknya Pak Wali bisa memberikan instruksi tegas kepada jajarannya untuk menyisir ke bawah. Lakukan pendataan, lihat langsung apakah ada warga yang kelaparan, yang tidak punya beras untuk dimasak,” tegasnya.

Bagi Mak Emin, bantuan dari relawan bukan sekadar beras dan uang tunai. Itu adalah tanda bahwa ia masih dilihat, masih dianggap ada, dan masih punya alasan untuk bertahan di tengah sakit yang menggerogoti tubuhnya dan kesabaran yang terus diuji.

Di balik senyapnya rumah kecil itu, tersimpan satu harapan sederhana semoga suatu hari, negara benar-benar hadir bagi warganya yang paling lemah. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *