Home / Ragam / Krisis Ruang Publik, Lapangan Sepak Bola Menghilang, Anak-Anak Bermain di Jalan
IMG-20260111-WA0028

Krisis Ruang Publik, Lapangan Sepak Bola Menghilang, Anak-Anak Bermain di Jalan

Tasikzone.com – Perkembangan sepak bola di Kota Tasikmalaya dinilai menghadapi tantangan serius seiring berkurangnya ruang publik dan meningkatnya komersialisasi olahraga.

Kondisi tersebut mengemuka dalam diskusi yang digelar Komunitas Cermin Tasikmalaya, yang menghadirkan sejumlah pegiat olahraga dan kebudayaan setempat.

Ketua Komunitas Cermin Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, menyampaikan keprihatinannya terhadap menyusutnya jumlah lapangan sepak bola di tingkat kelurahan dan kecamatan. Menurutnya, lapangan yang dahulu mudah dijumpai di sekitar kantor desa atau kecamatan kini banyak yang hilang.

“Di beberapa wilayah seperti Kecamatan Cihideung dan Tawang, lapangan sepak bola sudah tidak lagi tersedia,” kata Ashmansyah. Minggu (11/01/2026)

Hilangnya ruang bermain tersebut berdampak langsung pada akses masyarakat, khususnya anak-anak, untuk berolahraga secara bebas.

Sementara itu, alternatif berupa lapangan futsal atau mini soccer dinilai tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat karena biaya sewa yang mencapai sekitar Rp150.000 per jam.

Keterbatasan fasilitas itu mendorong anak-anak bermain sepak bola di ruang yang tidak semestinya, termasuk di badan jalan. Fenomena tersebut ditemukan di sejumlah titik, salah satunya di kawasan Jalan Kemalasari.

“Ini berbahaya dan memprihatinkan. Sepak bola seharusnya dimainkan di ruang yang aman,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut juga mengemuka perubahan wajah sepak bola yang kian mengarah pada industri.

Ashmansyah menilai, sepak bola saat ini tidak lagi semata menjadi ruang ekspresi dan kebersamaan, melainkan telah dikuasai kepentingan komersial.

“Figur pemain bintang kini lebih dilihat sebagai komoditas pasar. Nilai kebersamaan dan kreativitas perlahan tergerus,” katanya.

BACA JUGA   2024 Pemkot Tasik Tidak Anggarkan TPHD, PJ Wali Kota Tasik Berangkat Ibadah Haji Gunakan Dana Pribadi

Padahal, menurut dia, sepak bola memiliki fungsi sosial yang kuat sebagai perekat masyarakat lintas usia dan latar belakang. Namun, fungsi tersebut semakin sulit terwujud seiring berkurangnya lapangan terbuka.

Sementara itu, Ketua PSSI Kota Tasikmalaya, Wahid, menyoroti dimensi lain dari perkembangan sepak bola, yakni keterkaitannya dengan kepentingan politik. Ia menyebut, di berbagai daerah termasuk Tasikmalaya, sepak bola kerap dijadikan instrumen politik oleh pejabat.

Meski demikian, Wahid menilai antusiasme masyarakat terhadap sepak bola lokal masih cukup tinggi. Hal itu tercermin dari penyelenggaraan turnamen seperti Piala Wali Kota Tasikmalaya yang tetap mendapat respons positif dari publik.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Tasikmalaya, Tatang Pahat. Ia menegaskan bahwa sepak bola seharusnya tidak dipandang semata sebagai industri, melainkan sebagai hiburan rakyat yang memiliki nilai budaya.

“Sepak bola harus tetap menjadi milik masyarakat, bukan hanya sarana mencari keuntungan,” ujarnya.

Di tengah berbagai keterbatasan, perkembangan sepak bola di Tasikmalaya dinilai masih menunjukkan harapan. Prestasi Persikotas disebut menjadi salah satu indikator bahwa semangat olahraga tersebut tetap hidup.

Pemerintah daerah pun mulai didorong untuk lebih serius menyediakan fasilitas olahraga yang layak dan terjangkau.

“Keberadaan lapangan sepak bola yang mudah diakses akan berdampak positif bagi kebahagiaan masyarakat dan keberlanjutan budaya olahraga,” kata Tatang. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *