Home / Sosial & Budaya / Kisah Pilu Pedagang Lansia Tasikmalaya: Kaki Palsu Rusak, Nafkah Terhenti
IMG-20251126-WA0024

Kisah Pilu Pedagang Lansia Tasikmalaya: Kaki Palsu Rusak, Nafkah Terhenti

Tasikzone.com — Di sebuah gang sempit di sudut Kota Tasikmalaya, tepatnya di Gang Kenanga RT 005 RW 003 Kelurahan Cipedes, hidup seorang lelaki tua yang namanya mungkin tak tercatat dalam data pembangunan, tetapi kisah hidupnya mengguncang nurani. Dialah Pak Kinkin, 73 tahun, seorang pejuang yang tetap tegak berdiri meski tak lagi memiliki kaki kanan.

Tahun 2006 menjadi titik paling kelam dalam hidupnya. Sebuah kecelakaan lalu lintas merenggut kakinya, mengubah cara ia berjalan sekaligus cara ia bertahan hidup.

Namun kehilangan anggota tubuh tak pernah merenggut tekadnya. Dengan kaki palsu seadanya, ia mendorong gerobak kecil setiap hari, berkeliling menjual nasi wuduk.

Keringat bercucuran, langkahnya pincang, tetapi senyum sederhana itu seakan tak pernah pudar, seolah ia ingin membuktikan bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh fisik yang sempurna.

Namun, perjuangan itu kini terhenti. Kaki palsu yang menjadi penopang hidupnya rusak. Tanpa itu, ia tidak bisa kembali berjualan. Rumah sederhana yang dulu ia tinggalkan selepas Subuh kini terasa lebih sunyi.

“Saya ingin sekali punya kaki palsu lagi,” ujarnya lirih kepada pengurus Yayasan Padi Nusantara Sejahtera yang datang menyalurkan bantuan beras dan uang tunai, Rabu (26/11/2025).

“Saya ingin kembali berjualan, mencari nafkah untuk keluarga,” sambungnya, dengan mata yang berkaca-kaca.

Ketua RT setempat, Asep Kusaeri, menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang telah membantu. Namun ia tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

BACA JUGA   Awal 2022, APG Tasikmalaya Aksi Sosial Di Desa Tenjonagara

“Terima kasih atas bantuan yang diberikan, semoga bermanfaat buat Pak Kinkin,” ujarnya.

Asep berharap ada dermawan yang tergerak membantu pembelian kaki palsu yang harganya tak terjangkau bagi keluarga ini.

“Mudah-mudahan ada agnia yang bisa membantu agar beliau bisa kembali bekerja,” harapnya.

Di sisi lain, pengurus Yayasan Padi Nusantara Sejahtera, Yanuar M. Rifqi, menyampaikan keprihatinan yang lebih mendalam.

Ia menilai kondisi Pak Kinkin mencerminkan satu fakta pahit, masih ada warga yang berjuang sendiri dalam lingkaran kemiskinan dan disabilitas, sementara pemerintah kota sibuk memoles wajah pembangunan tanpa menyentuh kebutuhan mendasar warganya.

“Kami berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya tidak menutup mata. Pak Kinkin bukan satu-satunya. Banyak warga yang membutuhkan perhatian nyata, bukan sekadar slogan program kesejahteraan,” tegas Yanuar.

“Pemerintah harus hadir, setidaknya membantu kaki palsu untuk Pak Kinkin, agar beliau bisa kembali berjuang, bukan menunggu belas kasihan.”

Kisah Pak Kinkin bukan sekadar potret kemiskinan. Ia adalah cermin tentang bagaimana sebuah kota bisa terlihat berkembang dari luar, tetapi masih melupakan mereka yang berjalan terseok di lorong-lorong kehidupan bahkan ketika mereka tak lagi mampu berjalan sama sekali. Pertanyaannya kini sederhana : sampai kapan perjuangan warga seperti Pak Kinkin harus berlangsung seorang diri ? (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *