Tasikzone.com – Hayu Diajar Bumi Pasundan (HYDBP) 2026 merupakan program pendidikan yang digagas Divisi Pendidikan JBZ Kota Tasikmalaya untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia 9–12 tahun atau siswa kelas 4, 5, dan 6 sekolah dasar. Program ini berfokus pada penguatan kemampuan dasar literasi, numerasi, dan sains sebagai bekal penting bagi peserta didik dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
HYDBP 2026 dirancang sebagai respons atas tantangan pendidikan di era digital, di mana siswa tidak hanya dituntut memahami materi akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik, kemampuan berpikir kritis, serta kecakapan dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Dengan mengusung tema “Learn, Create, and Grow in the Digital World”, HYDBP 2026 bertujuan meningkatkan kemampuan literasi, numerasi, dan sains melalui pembelajaran yang interaktif, kontekstual, serta berbasis literasi digital. Program ini juga menekankan penanaman nilai karakter positif, kesadaran keamanan digital, serta kepedulian terhadap lingkungan dan budaya lokal.
Pelaksanaan HYDBP 2026 di Kota Tasikmalaya berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat (22–23 Januari 2026), bertempat di SDN Lewo 1–2. Kegiatan ini diikuti oleh 219 siswa, terdiri dari 56 siswa kelas 4, 82 siswa kelas 5, dan 81 siswa kelas 6, dengan pembelajaran yang disesuaikan berdasarkan jenjang kelas.
Seluruh rangkaian kegiatan disusun secara terencana, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Kegiatan ini didukung oleh 53 orang yang terdiri dari 30 panitia dan 23 volunteer di bawah naungan JBZ Kota Tasikmalaya, yang dibagi ke dalam beberapa divisi untuk memastikan kegiatan berjalan secara terstruktur.
Materi pembelajaran HYDBP 2026 disajikan dalam bentuk modul tematik yang disesuaikan dengan tingkat kelas peserta didik. Metode pembelajaran meliputi diskusi interaktif, permainan edukatif, demonstrasi, eksperimen sederhana, serta kerja kelompok.
Empat modul utama disiapkan dalam kegiatan ini. Modul pertama, Eksplorasi Numerasi: Pecahan dan Geometri, bertujuan membantu siswa memahami konsep dasar numerasi melalui pendekatan bermain dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Modul kedua, Merawat Warisan Budaya melalui Literasi Digital, mengajak siswa mengenal budaya lokal sekaligus belajar menggunakan teknologi secara positif serta membedakan informasi benar dan hoaks.
Modul ketiga, Mengenal Alam Lebih Dekat melalui Siklus Hidrologi, memperkenalkan proses siklus air dan pentingnya air bagi kehidupan melalui media visual dan percobaan sederhana, guna menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Sementara modul keempat, Bijak dalam Konten Dunia Maya dan Tindakan Seksual, membekali siswa dengan pemahaman tentang keamanan digital, perlindungan data pribadi, serta etika berinteraksi di media sosial.
Selain pembelajaran di kelas, siswa juga mengikuti permainan tradisional sebagai sarana pembelajaran nonformal untuk melatih kerja sama, sportivitas, dan interaksi sosial. Kegiatan ini turut dilengkapi dengan edukasi mitigasi kebakaran yang disampaikan oleh GIB sebagai mitra kegiatan.
Materi mitigasi kebakaran meliputi pengenalan penyebab dan risiko kebakaran di lingkungan rumah dan sekolah, serta langkah awal penanganan kebakaran ringan. Edukasi ini disampaikan secara interaktif melalui demonstrasi dan praktik langsung dengan pendampingan panitia dan volunteer.
Pada hari pertama kegiatan, peserta mengikuti pembukaan, penyampaian materi pembelajaran sesuai modul, serta edukasi mitigasi kebakaran. Hari kedua difokuskan pada permainan tradisional berbasis pos untuk penguatan karakter, yang kemudian ditutup dengan penutupan resmi dan dokumentasi kegiatan.
HYDBP 2026 dinilai sebagai program pendidikan terintegrasi yang menggabungkan pembelajaran akademik, pembentukan karakter, serta edukasi keselamatan. Program ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang positif dan membentuk siswa menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan di era digital. (***)
Tasik Zone Kreativitas Muda Untuk Indonesia