Home / Sosial & Budaya / Hampir Seabad Usia, Emak Oho Jalani Hari Tua dalam Keterbatasan
IMG_20260214_224249

Hampir Seabad Usia, Emak Oho Jalani Hari Tua dalam Keterbatasan

Tasikzone.com – Di sebuah rumah tua yang dindingnya mulai lapuk dimakan usia, Emak Hodijah yang akrab disapa Emak Oho menghabiskan hari-harinya dalam diam.

Di usianya yang menginjak 96 tahun, ia hanya mampu terbaring di atas kasur tipis yang digelar di ruang sederhana rumahnya di Kampung Cicondong, Kelurahan Cibeuti, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya. Tubuh renta itu tak lagi sekuat dulu. Faktor usia dan penyakit membuatnya tak berdaya.

Tatapannya kosong menembus langit-langit rumah yang mulai rapuh, sementara langkahnya telah lama terhenti. Waktu berjalan pelan bagi Emak Oho. Hari demi hari dilalui di pembaringan yang sama, dalam sunyi yang panjang.

Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, Emak Oho belum tercatat sebagai penerima bantuan sosial pemerintah. Padahal, kebutuhan hidupnya bergantung pada sang anak yang juga hidup dalam kondisi serba pas-pasan. Untuk menyambung hidup, anaknya berjualan gorengan dengan penghasilan yang tak menentu setiap harinya.

Aroma minyak goreng yang mengepul dari dapur kecil rumah itu menjadi saksi perjuangan keluarga sederhana ini. Dari hasil berjualan gorengan itulah kebutuhan makan sehari-hari dipenuhi, termasuk untuk merawat Emak Oho yang semakin lemah.

Di tengah kondisi tersebut, secercah harapan datang ketika Yanuar M. Rifqi, relawan dari Yayasan Padi Nusantara Sejahtera, berkunjung ke rumahnya, Sabtu (14/02/2026). Ia membawa bantuan berupa beras dan sejumlah uang tunai sebagai bentuk kepedulian.

BACA JUGA   Lagi, Polres Tasikmalaya Aksi Sosial Bagikan Ratusan Sembako

“Kami berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan beban Emak Oho dan keluarganya,” ujar Yanuar lirih.

Kedatangan relawan itu membuat suasana haru menyelimuti rumah kecil tersebut. Didah (69), anak Emak Oho, tak kuasa membendung air matanya.

“Saya tidak menyangka masih ada yang peduli dengan kondisi ibu saya. Terima kasih sudah datang dan membantu. Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” ucap Didah dengan suara bergetar.

Ia mengaku selama ini hanya bisa berusaha semampunya untuk merawat sang ibu dari hasil berjualan gorengan.

“Penghasilan tidak tentu, kadang cukup untuk makan sehari, kadang pas-pasan. Tapi saya ingin ibu tetap dirawat di rumah. Mudah-mudahan ada perhatian juga dari pemerintah,” tambahnya.

Bantuan itu mungkin tak besar, namun bagi keluarga kecil ini, perhatian dan kepedulian menjadi penguat di tengah keterbatasan. Di usia yang hampir seabad, Emak Oho hanya membutuhkan satu hal sederhana : hari tua yang lebih layak, ditemani perhatian dan uluran tangan dari sesama. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *