Home / Peristiwa / Dipatok Ular Saat Tidur, Bocah 12 Tahun di Tasikmalaya Dirawat Intensif Di RSUD KHZ Musthafa
IMG_20260407_152256

Dipatok Ular Saat Tidur, Bocah 12 Tahun di Tasikmalaya Dirawat Intensif Di RSUD KHZ Musthafa

Tasikzone.com – Seorang bocah berusia 12 tahun di Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kabupaten Tasikmalaya, harus berjuang antara hidup dan mati setelah dipatuk ular berbisa saat tertidur di lantai rumahnya. Korban berinisial DK kini menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa sejak lebih dari sepekan terakhir.

Peristiwa itu terjadi saat DK, anak pasangan Andis Kuswara dan Siti Hindun, tengah terlelap di ruang tengah rumahnya. Ia diketahui dipatuk ular belang jenis keling pada bagian tangan kanan.

Siti Hindun, ibu korban, menuturkan bahwa awalnya sang anak tidak merasakan keluhan berarti. Namun, setelah dibawa ke tabib kampung, keluarga disarankan segera membawa DK ke rumah sakit.

“Anak saya tidur di lantai bersama saya di ruang tengah, bukan di tempat tidur. Dia sempat bilang ada ular, lalu dipegang karena dikira mainan,” ujar Siti Hindun di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa, Selasa (7/4/2026).

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, kondisi DK mulai memburuk. Ia mengeluhkan sakit perut, kesulitan menelan, hingga mengalami sesak napas. Setibanya di rumah sakit, korban akhirnya tak sadarkan diri dan langsung mendapatkan penanganan intensif.

“Anak saya sempat pingsan, kemudian langsung ditangani dan dimasukkan ke ruang ICU,” katanya.

Direktur RSUD KHZ Musthafa, dr. Eli Hendalia, menyampaikan bahwa pihaknya melakukan penanganan maksimal untuk menyelamatkan nyawa korban. Kasus ini tergolong berat karena racun ular menyebabkan pelemahan otot pernapasan.

BACA JUGA   Drainase Milyaran Rupiah Sia-sia, Warga Kota Tasikmalaya Terus Kena Imbasnya

Pihak rumah sakit bahkan mendatangkan dokter spesialis toksinologi dari Bandung guna memastikan penanganan berjalan optimal.

Dalam proses perawatan, tim medis harus menyediakan serum anti-bisa dalam jumlah besar. Jika umumnya pasien hanya membutuhkan 3 hingga 4 vial, DK memerlukan hingga 50 vial akibat kondisi yang lebih serius.

Keterbatasan stok sempat menjadi kendala, sehingga tim medis harus bolak-balik Tasikmalaya–Bandung untuk memastikan ketersediaan serum.

Meski terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, biaya pengobatan DK telah mencapai sekitar Rp200 juta, melampaui plafon yang ditanggung. Namun demikian, pihak rumah sakit tetap berkomitmen melanjutkan perawatan.

“Kami mengutamakan keselamatan jiwa pasien, apalagi ini anak-anak. Rumah sakit akan berupaya mencari solusi untuk menutupi kekurangan biaya tersebut,” ujar dr. Eli.

Di tengah kondisi tersebut, keluarga korban juga menghadapi beban ekonomi selama mendampingi perawatan. Untuk itu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Tasikmalaya turut memberikan bantuan.

Ketua BAZNAS Kabupaten Tasikmalaya, Eddy Abdul Somadi, mengatakan pihaknya membantu kebutuhan hidup keluarga selama di rumah sakit, termasuk menyediakan fasilitas tempat tinggal sementara.

Selain itu, pihak rumah sakit mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah persawahan, agar lebih waspada terhadap potensi bahaya ular. Penggunaan tempat tidur dan kelambu disarankan sebagai langkah pencegahan.

Hingga kini, DK masih menjalani perawatan intensif. Upaya medis dan dukungan sosial terus dilakukan, disertai harapan agar kondisi korban segera membaik. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *