Tasikzone.com — Serangkaian kasus kekerasan seksual, perundungan (bullying), serta meningkatnya krisis identitas di kalangan pelajar turut menggugah kepedulian generasi muda Kota Tasikmalaya.
Melalui sarasehan bertajuk “Membangun Benteng Moral Pelajar Tasik : Menggali Realitas dan Kontradiksi Label Kota Santri di Tengah Isu Kekerasan Seksual, Perundungan dan Krisis Identitas Gender Pelajar”, berbagai gagasan dan seruan moral disampaikan untuk menguatkan kembali karakter pelajar di kota yang dikenal religius ini.
Tiga figur muda hadir memberikan pandangan, yakni Encep Iik Muzakir, S.H., Ketua Umum PD PRIMA DMI Tasikmalaya sebagai narasumber utama, Muhammad Yasir, Ketua Umum PD PII Tasikmalaya sebagai pemantik, serta Ikhlas Ulul Albab, Kabid Pengkaderan PD IPM Kota Tasikmalaya sebagai pemantik diskusi.
Dalam sesi penyampaiannya, iik menjelaskan bahwa Tasikmalaya memiliki landasan kesantrian yang kuat sejak lama. Meski demikian, berbagai perilaku negatif di kalangan pelajar mulai dari penghinaan, intimidasi, hingga kekerasan menandakan adanya penurunan kualitas moral yang harus ditanggapi secara serius.
Ia menegaskan bahwa tindakan merendahkan dan menyakiti orang lain bukan hanya melanggar etika sosial, tetapi juga dilarang tegas dalam Al-Qur’an. Di antaranya: • QS. Al-Hujurat ayat 11, yang menegur perilaku saling mengejek dan merendahkan; • QS. Al-Hujurat ayat 12, yang mengecam ghibah; • QS. Al-Qalam ayat 10–11, yang mengingatkan agar tidak mengikuti orang yang suka mencela dan menyebar keburukan.
“Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa bullying dan kekerasan, baik fisik maupun verbal, tidak mendapatkan tempat dalam ajaran Islam. Kota Santri harus tercermin dari perilaku mulia generasinya,” terang iik.
Dari PII, Muhammad Yasir menilai bahwa persoalan moral remaja harus direspons dengan pendekatan kolektif dan sistematis.
Edukasi mengenai batas hukum, advokasi terhadap korban, serta keberanian pelajar dalam melawan tindakan kekerasan menjadi agenda yang perlu diperkuat.
“Kami mendorong pelajar tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berani menolak segala bentuk kekerasan,” ujarnya.
Sementara itu, Ikhlas Ulul Albab dari IPM menyoroti tantangan era digital yang membuat pelajar semakin rentan mengalami tekanan psikologis dan kebingungan identitas. Ia menekankan pentingnya lingkungan pertemanan yang sehat dan pembinaan karakter yang sesuai zaman.
“Pelajar membutuhkan ruang aman untuk tumbuh. Pembinaan harus kreatif, relevan, dan dekat dengan realita mereka,” tegasnya.
Sarasehan ini menyepakati perlunya kerja sama lintas lembaga untuk memperkuat moral pelajar. PRIMA DMI siap memaksimalkan peran masjid dalam pembinaan generasi muda, sementara PII dan IPM akan memperluas pendampingan serta edukasi kepelajarannya.
Ketiga organisasi—PD PRIMA DMI, PD PII, dan PD IPM—juga menyepakati tindak lanjut berupa penyelenggaraan pelatihan khusus untuk mencetak agent of change di kalangan pelajar, dengan fokus menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas bullying.
Sinergi ini diharapkan dapat mengembalikan nilai-nilai khas Kota Santri dalam kehidupan pelajar Tasikmalaya, sehingga identitas religius kota ini tetap relevan dan hidup dalam karakter generasi mudanya. (***)
Tasik Zone Kreativitas Muda Untuk Indonesia