Home / Opini / Banjir Berulang, Aktivis Soroti Lemahnya Pengelolaan Lingkungan dan Tata Pembangunan Kota
IMG_20260403_001805

Banjir Berulang, Aktivis Soroti Lemahnya Pengelolaan Lingkungan dan Tata Pembangunan Kota

Tasikzone.com — Banjir yang kembali melanda Kota Tasikmalaya menuai sorotan dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Aktivis sosial, Deden Faiz Taptajani, S.Sos, menilai peristiwa tersebut bukan sekadar bencana alam, melainkan cerminan Lemahnya Wali Kota Tasikmalaya dalam mengelola tata kota.

Menurut Deden, kejadian banjir yang terjadi saat ini bukanlah yang pertama. Ia mengingatkan bahwa peristiwa serupa juga terjadi pada tahun sebelumnya, namun hingga kini belum terlihat adanya langkah pencegahan yang signifikan dari pemerintah daerah.

“Banjir di Kota Tasikmalaya ini bukan kejadian baru. Tahun lalu sudah terjadi, bahkan sudah ada peringatan. Tapi sampai sekarang belum ada progres nyata dalam upaya pencegahan,” ujarnya. Kamis (02/04/2025)

Ia menegaskan, persoalan banjir tidak bisa semata-mata disebabkan oleh faktor alam. Deden menilai ada persoalan mendasar dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan kota.

“Ini bukan murni bencana alam. Ini lebih kepada bencana akibat pengelolaan yang tidak optimal, mulai dari persoalan sampah, infrastruktur yang tidak sesuai regulasi, pembangunan yang mengabaikan aspek AMDAL, hingga aktivitas galian C di beberapa titik,” katanya.

Deden juga menyoroti kondisi wilayah hulu, khususnya di Kecamatan Bungursari yang menjadi jalur aliran air dari kawasan Gunung Galunggung. Menurutnya, alih fungsi lahan dan berkurangnya vegetasi menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya debit air ke wilayah perkotaan.

“Daerah resapan semakin berkurang karena alih fungsi lahan. Akibatnya, saat hujan deras, air langsung mengalir ke pusat kota tanpa terserap dengan baik,” jelasnya.

BACA JUGA   Duet Gerindra Eksekutif-Legislatif, Mampukah Angkat Derajat Guru Ngaji Di Kota Santri ?

Di sisi lain, kondisi di pusat kota dinilai tidak lebih baik. Dominasi bangunan beton, minimnya ruang terbuka hijau, serta sistem drainase yang belum optimal dinilai memperparah dampak banjir.

Ia menilai, hingga saat ini pemerintah masih lebih fokus pada penanganan pasca-bencana dibandingkan upaya pencegahan.

“Penanggulangan itu penting, tapi bukan solusi utama. Harus ada langkah pencegahan yang konkret dan berkelanjutan,” tegas Deden.

Deden mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah strategis, seperti reboisasi di kawasan hulu, penambahan area resapan air, perbaikan sistem drainase, serta penguatan pengelolaan sampah melalui program bank sampah dan edukasi masyarakat.

“Kalau tidak ada langkah pencegahan yang serius, jangan berharap persoalan banjir ini akan selesai,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak banjir tidak hanya dirasakan secara sosial, tetapi juga berdampak luas pada sektor ekonomi dan kesehatan masyarakat.

“Banjir bisa melumpuhkan aktivitas ekonomi, merusak fasilitas publik, dan berpotensi memicu penyebaran penyakit. Ini jelas akan membebani keuangan daerah, apalagi di tengah keterbatasan anggaran,” pungkasnya.

Diketahui, hujan deras yang disertai angin kencang Kamis (2/4/2026) sekitar pukul 16.00 WIB memicu serangkaian kejadian di berbagai wilayah Kota Tasikmalaya. Selain banjir, peristiwa tersebut juga menyebabkan pohon tumbang serta kerusakan bangunan di sejumlah titik. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *