Tasikzone.com — Aliansi BEM Tasikmalaya menyatakan kekecewaannya terhadap sikap Wali Kota Tasikmalaya yang dinilai tidak mengindahkan aspirasi mahasiswa. Kekecewaan tersebut disampaikan langsung oleh Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Dede Firmansyah.
Menurut Dede, ketidakhadiran Wali Kota dalam sejumlah aksi massa yang telah digelar menjadi bukti minimnya ruang dialog antara pemerintah dan mahasiswa.
“Kami dari Aliansi BEM Tasikmalaya sangat kecewa terhadap Wali Kota Tasikmalaya. Kegiatan yang kami lakukan seolah tidak diindahkan. Wali Kota lagi dan lagi tidak pernah hadir menemui massa aksi, padahal kami ingin berdiskusi secara terbuka,” ujar Dede Firmansyah.
Ia menegaskan, aksi yang dilakukan mahasiswa bukan sekadar unjuk rasa, melainkan bentuk dorongan agar nota kesepakatan yang telah dibuat dapat segera ditindaklanjuti, termasuk berbagai persoalan krusial yang tengah terjadi di Kota Tasikmalaya.
Aliansi BEM Tasikmalaya, lanjutnya, akan kembali menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar sebagai bentuk keseriusan dalam mengawal tuntutan.
“Kami akan kembali dengan gerakan yang lebih besar dan eskalasi massa yang lebih banyak. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk mengawal kesepakatan dan menyuarakan kepentingan masyarakat Kota Tasikmalaya,” tegasnya.
Dede juga menilai kepemimpinan Wali Kota belum mampu menjalankan roda pemerintahan secara optimal, termasuk dalam merealisasikan janji politik yang pernah disampaikan kepada masyarakat.
“Wali Kota menjanjikan 18 program kerja dan 7 program prioritas. Namun hingga saat ini, kami melihat realisasinya belum jelas. Kami mempertanyakan komitmen tersebut,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti adanya dugaan persoalan komunikasi internal di tubuh Pemerintah Kota Tasikmalaya yang dinilai belum berjalan dengan baik. Hal tersebut, menurutnya, memicu polemik dan memunculkan kesan tidak adanya harmonisasi antara Wali Kota dan Wakil Wali Kota.
“Ada dugaan persoalan komunikasi internal di tubuh Pemkot yang belum terkomunikasikan dengan baik. Kemarin bahkan muncul polemik antara wali dan wakil yang menunjukkan tidak adanya harmonisasi,” ungkap Dede.
Pada prinsipnya, Aliansi BEM Tasikmalaya menuntut adanya kepemimpinan yang mampu menjaga stabilitas dan memastikan jalannya pemerintahan berjalan efektif.
“Ketika Wali Kota tidak bisa menjalankan dan menjaga stabilitas Kota Tasikmalaya, maka kami meminta untuk turun. Ini bentuk tanggung jawab moral terhadap masyarakat,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Dede menyampaikan satu kalimat yang menjadi refleksi gerakan mereka terhadap kondisi pemerintahan saat ini.
“Satu kata untuk pemerintahan hari ini: Tasik teu usik.” (***)
Tasik Zone Kreativitas Muda Untuk Indonesia