Oleh: Rifyal Luthfi MR.
Tasikzone.com – Terkadang dalam kehiduapan ini kita selalu terkecoh dengan kondisi dan situasi dibumi yang fana ini, padahal dengan sebentar saja kita bertafakur akan membrikan pencerahan dan penyadarandiri kita ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu perlu kita mengenal diri kita secara mendalam.
Berdasarkan firman Allah swt.:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah.” (Qs. Al Mu`min:12)
Dari keterangan di atas ternyata kita tercipta pada hakikatnya dari saripati tanah, meskipun penciptaannya dari unsur tanah, namun penciptaan ini adalah pencitaan yang sempurna luar biasa yang Allah tegaskan melalui firmannNya:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
“ sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Qs. At-Tin:4)
Kelebihan diri kita dari semua makhluk yang Allah ciptakan adalah diberikan akal/hati dalam diri kita sehingga melalui akal tersebut manusia bisa memilah-milih mana yang haq dan mana yang bathil. Sehingga mempunyai kecerdasan pengetahuan/kelimuan lebih dari makhluk yang lainnya termasuk malaikat. Itulah hakikat kita yang diciptakan sebagai sosok manusia.
Selanjutnya kita diciptakan tujuannya untuk apa ?
Allah swt dalam firmanNya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
”(Qs. Az-Zariyat:56).
Inilah tugas kita di muka bumi yakni beribadah kepada Allah, baik dalam bentuk ibadah mahdhoh (langsung) maupun ghoir mahdoh (tidak langsung) yakni melalui berinteraksi dengan sesama makhluk Allah (muamalah).
Contoh ibadah langsung yakni melalui sholat, dzikir, puasa dan yang lainnya. Sedangkan ibadah ghoir mahdhoh yakni melalui interaksi dengan sesama makhluk Allah, saling memberi, saling menjaga, saling membela, saling menghormati serta saling menyanyangi berlandaskan Lillahi ta`ala (karena Allah). Jika kita meniatkan ibadah serta memahami konsep dan cara beribadah secara kaffah (menyeluruh) baik mahdhoh maupun ghoir mahdhoh, maka seluruh aktivitas kita akan berlabuh pada satu tujuan yaitu Ridho Allah. Sebagaimana firmanNya:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An`am:162)
Dari ayat di atas jelaslah perintah serta anjuran yang disampaikan adalah apapun aktivitas kita agar menjadi nilai ibadah maka niatkan dengan niat beribadah kepada Allah swt.
Sebagaimana sabda Nabi saw:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya Amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya (HR.Al-Buchori dan Muslim)
Oleh karenanya perbaiki hubungan kita dengan Allah (habluminallah), hubungan kita dengan manusia (habluminannas) serta hubungan kita dengan Alam (Habluminal`alam), semuanya saling keterikatan dalam bingkai hubungan yang hakiki, semisal hubungan kita dengan Allah melalui akhlak baik kepada Allah dengan selalu senantiasa banyak banyak mengingatnya, mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Dengan sesama membantu fakir miskin, anak yatim piatu, orang jompo, mengunjungi yang sakit serta membantu meringankan beban orang lain. Sedangkan dengan alam kita bersimbiosis mutualisme (saling menguntungkan) yakni bagaimana kita menjaga mereka dari kepunahan dan kerusakan melalui reboisasi hutan gundul, tidak membuang sampah sembarangan, tidak berburu hewan yang dilindungi, serta melestarikan flora dan fauna yang menjadi ekosistem dalam kehidupan kita
Nabi Muhammad SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik orang adalah yang dapat memberi manfaat kepada sesama.”
Lalu akan kemana kita?
Inilah tahapan yang kadang kita selalu tidak menyadarinya sehingga sering terlupakan dan akan tersadarkan ketika kita sudah diruangan 1 x 2 meter di kedalaman kurang lebih 2 meter di dalam tanah, yakni kematian. Jika pertanyaan akan kemana kita, maka kita akan kembali lagi ke tanah sesuai dengan hakikat kita. Allah mengingatkan melalui Firman-Nya :
مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى
“Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain.” (Qs. Taha:55)
Ayat di atas mengingatkan bahwa kita akan Kembali lagi ke tanah sesuai dengan penciptaannya dan dibangkitkan lagi pada waktu yang sudah Allah tentukan. Oleh karenanya kesadaran untuk kembali ke tanah merupakan sebuah keniscayaan atau keharusan bagi diri kita agar dalam berkehidupan di bumi ini berusaha untuk tidak salah dalam melangkah dan selalu berpegang taguh pada nilai-nilai keimanan serta keikhlasan dalam menjalaninya. Sehingga ketika dihadapan Allah kelak kita tidak malu atas apa yang kita lakukan selama di dunia ini.
Hasbunallah Wanimal wakil
Tasik Zone Kreativitas Muda Untuk Indonesia