Home / Sosial & Budaya / Potret Lansia Terpinggirkan di Bantaran Sungai Cikunten Tasikmalaya
IMG_20260126_151400

Potret Lansia Terpinggirkan di Bantaran Sungai Cikunten Tasikmalaya

Tasikzone.com — Di bantaran Sungai Cikunten, seorang perempuan lanjut usia menjalani hidup yang nyaris tak tercatat oleh negara. Namanya Mak Sutarsih, 60 tahun.

Di usia ketika perlindungan sosial semestinya hadir, ia justru bertahan seorang diri di gubuk sempit berukuran sekitar satu kali tiga meter.

Tempat tinggal itu bukan rumah, melainkan bangunan darurat hasil patungan warga sekitar yang tak tega melihat Mak Sutarsih hidup tanpa atap.

Berdiri di kawasan sempadan sungai, gubuk tersebut jauh dari kategori hunian layak. Namun ironisnya, dalam keterbatasan yang kasat mata itu, bantuan sosial pemerintah tak pernah singgah.

Sebagai lansia yang hidup sendiri dan masuk kelompok rentan, Mak Sutarsih seharusnya berada di barisan terdepan penerima bantuan.

Kenyataannya, hingga kini namanya tak pernah muncul dalam daftar. Negara, dalam hal ini, kembali kalah oleh data yang tak menyentuh tanah.

Kisah Mak Sutarsih membuka celah antara laporan kesejahteraan di ruang rapat dan realitas di lapangan. Klaim penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran seketika kehilangan makna ketika berhadapan dengan lansia yang tidur di gubuk sempit di tepi sungai.

Warga setempat menyebutkan, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengusulkan Mak Sutarsih sebagai penerima bantuan. Namun pengajuan demi pengajuan berakhir tanpa kejelasan. Tak ada penolakan tertulis, tak pula penjelasan resmi hanya sunyi yang berulang.

BACA JUGA   Puskesmas Berikan Perhatian Khusus, Kondisi Iwan Pemuda Lumpuh Membaik

Situasi ini kian getir karena lokasi gubuk Mak Sutarsih disebut tak jauh dari rumah seorang pejabat. Kedekatan jarak itu seolah tak berbanding lurus dengan kehadiran empati. Entah keberadaan Mak Sutarsih luput dari pandangan, atau kepedulian sosial memang berhenti di balik meja administrasi.

Di tengah absennya negara, perhatian justru datang dari Yayasan Padi Nusantara Sejahtera. Senin, 26 Januari 2026, para relawan menyusuri bantaran Sungai Cikunten dan mengetuk pintu gubuk kecil tempat Mak Sutarsih bertahan hidup.

Dari balik pintu, keluar seorang perempuan renta yang selama ini mengandalkan lahan seadanya untuk menanam sayuran. Hasil kebun kecil itulah yang ia jual demi menyambung hidup, tanpa jaminan, tanpa perlindungan.

Relawan Yayasan Padi Nusantara Sejahtera, Yanuar M. Rifqi, mengaku terpukul melihat langsung kondisi tersebut

“Ini bukan kasus tunggal. Ini potret buram pendataan bantuan sosial di Kota Tasikmalaya. Lansia yang hidup sendiri dan jelas membutuhkan justru tak tercatat,” ujarnya.

Yanuar berharap, kisah Mak Sutarsih tak berhenti sebagai cerita pilu, melainkan menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk membenahi data dan cara pandang terhadap kemiskinan. Sebab, selama kebijakan masih tunduk pada angka, mereka yang paling rentan akan terus terpinggirkan. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *