Home / Sosial & Budaya / Wajah Kusam Bansos : Terdaftar di Desil Lima, Jompo Ini Justru Terpinggirkan
IMG_20260118_142351

Wajah Kusam Bansos : Terdaftar di Desil Lima, Jompo Ini Justru Terpinggirkan

Tasikzone.com — Di sebuah rumah sempit di sudut Cilamajang, seorang lansia renta hanya bisa berbaring, menunggu kepedulian yang tak kunjung datang dari negara. Namanya Mak Sahanan. Di usia senja dan kondisi yang serba terbatas, ia justru tercatat sebagai warga “mampu” oleh sistem pemerintah.

Mak Sahanan, jompo warga Saguling Panjang RT 003 RW 007, Kelurahan Cilamajang, Kecamatan Kawalu, tidak mendapatkan bantuan sosial pemerintah.

Bukan karena ia berkecukupan, melainkan karena terhalang oleh desil skema pemeringkatan kesejahteraan berbasis data yang kerap tak sejalan dengan realitas di lapangan.

Ironisnya, Mak Sahanan yang tinggal bersama cucunya yang sama srbba kekurangan itu tercatat berada pada Desil Lima (5), kategori masyarakat mampu.

Sebuah klasifikasi administratif yang membuatnya tersingkir dari daftar penerima bantuan, meski untuk sekadar bangkit dari tempat tidur pun ia membutuhkan bantuan orang lain.

Kondisi tersebut akhirnya mengetuk nurani Yayasan Padi Nusantara Sejahtera. Melalui Program Save Jompo Yayasan Padi, para relawan datang menyapa Mak Sahanan pada Minggu, 18 Januari 2026, dengan membawa satu karung beras dan bantuan uang tunai.

BACA JUGA   Agen Standby di tempat Penyaluran BPNT, Camat Cibeureum : Upaya Pastikan Masyarakat Beli Sembako

Air mata Mak Sahanan pun tak terbendung. Ia tak menyangka masih ada yang peduli pada hidupnya yang kian terpinggirkan. Harapan yang semestinya tertuju pada pemerintah, kembali pupus. Untuk kesekian kalinya, justru lembaga sosial yang hadir memberi uluran tangan.

Relawan Yayasan Padi Nusantara Sejahtera, Yanuar M. Rifqi, berharap pemerintah Kota Tasikmalaya tak terus bersembunyi di balik data.

“Pemerintah melalui Dinas Sosial diharapkan bisa turun langsung, mengevaluasi kembali desil Mak Sahanan, dan memastikan ia mendapatkan bantuan yang memang menjadi haknya, mak Sahanan ini sudah susah untuk berjalan sangat membutuhkan kursi roda” ujarnya.

Kisah Mak Sahanan menjadi potret buram bagaimana kemiskinan kerap tak diukur dari kenyataan hidup, melainkan dari angka-angka yang kaku. sementara mereka yang paling membutuhkan justru tertinggal di luar sistem. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *