Home / Ragam / Lonovila Menoreh, Surga Tersembunyi di Perbukitan Menoreh
IMG_20260102_152255

Lonovila Menoreh, Surga Tersembunyi di Perbukitan Menoreh

Tasikzone.com – Ada tempat yang tak membutuhkan banyak kata untuk membuat orang betah. Begitu kaki menjejak, langkah otomatis melambat, suara merendah, dan pikiran dilepas satu per satu.

Di tempat ini, waktu seolah tidak sedang berlari—ia berjalan pelan, tanpa tujuan selain menemani. Lonovila Menoreh berdiri tenang di perbukitan Menoreh, Jatimulyo, Kulon Progo, dikelilingi hutan, kebun, dan kabut yang kerap turun tanpa aba-aba.

Meski menghadirkan suasana yang terasa jauh dari hiruk-pikuk, akses menuju Lonovila Menoreh justru terbilang mudah. Dari Tugu Yogyakarta, perjalanan hanya memakan waktu sekitar satu jam. Dari Bandara Internasional D.I.E. (YIA) di Wates sekitar tiga puluh menit, sementara dari Stasiun Wates kurang lebih dua puluh delapan menit.

Jalan beraspal lebar dan mulus mengular lembut mengikuti kontur perbukitan. Perjalanan terasa nyaman sejak awal, seolah menjadi proses transisi perlahan dari keramaian menuju ketenangan.

Setibanya di lokasi, pengunjung disambut halaman tanah yang luas, rata, dan terbuka tanpa sekat. Tanah dibiarkan alami—bersih, padat, dan lapang—memberi kesan hangat seperti pulang ke kampung halaman yang jujur dan apa adanya.

“Lokasinya ternyata gampang dijangkau. Dari Jogja dan bandara cepat, jalannya mulus dan lebar. Begitu sampai langsung terasa jauh dari keramaian kota. Akses mudah tapi suasananya benar-benar seperti di alam,” kata Hermanto, salah satu pengusaha, kepada tasikzone.com.

Angin membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Suara alam menjadi latar hidup: gesekan daun, dengung serangga sore, serta sesekali kicau burung yang melintas. Dalam suasana seperti ini, waktu seakan melebar—memberi ruang untuk duduk lebih lama, diam lebih lama, dan menikmati hal-hal kecil yang sering terlewat.

IMG_20260102_152318

“Nginep di Lonovila Menoreh benar-benar bikin betah. Suasananya tenang, dingin alami, kamarnya luas dan nyaman. Malam hari sunyi, pagi bangun rasanya segar banget. Tempatnya cocok buat istirahat total,” ucapnya.

Di sisi kiri dan kanan halaman, taman buah tumbuh sederhana tanpa dibuat berlebihan. Pohon durian muda setinggi sekitar dua meter berdiri berdampingan dengan jambu dan tanaman buah lainnya. Tidak ada kesan dipaksakan rapi—semuanya tumbuh alami.

Di bagian depan, dekat area parkir, terdapat kebun sayur yang hidup dan terawat: tomat, terong, kacang panjang, berbagai sayuran musiman, momo-momo, jahe, serta aneka rimpang. Kebun ini menjadi penanda bahwa Lonovila Menoreh bukan sekadar tempat menginap, melainkan ruang untuk menjalani hari dengan ritme alam.

BACA JUGA   Gerakan Satria Bersarung Kritik Kebijakan PSBB

Bangunan utama Lonovila Menoreh mengusung konsep joglo modern—kokoh, teduh, dan hangat. Ruang dalamnya lapang, dengan bukaan lebar yang memungkinkan cahaya dan udara pegunungan mengalir bebas. Lantai marmer bernuansa warna batu terasa sejuk di kaki, dirancang tanpa kilap berlebihan agar menyatu dengan elemen kayu, cahaya, dan suasana hutan.

Di ruang-ruang ini, orang cenderung tinggal lebih lama. Percakapan mengalir pelan, dan rasa betah muncul tanpa disadari.

Teras di sisi kiri dan kanan rumah menjadi ruang favorit—tempat duduk santai sambil memandang kebun, mendengar hutan berbicara lirih, dan menyaksikan kabut turun perlahan menyentuh halaman.

Lonovila Menoreh memiliki empat kamar tidur berukuran besar yang dirancang tetap terhubung dengan alam. Setiap kamar memiliki akses dari dalam rumah sekaligus langsung ke luar, dilengkapi pintu kaca lebar berpadu kayu jati bergaya modern.

Pintu dapat dibuka penuh, membiarkan udara dingin khas Menoreh masuk bersama suara alam. Dari dalam kamar, pandangan langsung mengarah ke halaman tanah, kebun, dan pepohonan—membuat pagi datang tanpa tergesa.

Di dalam rumah tersedia dua area dapur, memberi keleluasaan untuk memasak dan menikmati waktu bersama tanpa batas jadwal. Kamar mandi dilengkapi water heater, menambah kenyamanan di udara pegunungan yang sejuk hingga dingin. Tanpa pendingin ruangan, rumah tetap terasa nyaman—alam telah mengatur keseimbangannya sendiri.

Lingkungan sekitar Lonovila Menoreh juga menyimpan banyak destinasi alam yang mudah dijangkau, seperti Sungai Mudal dengan airnya yang jernih, Gua Seplawan yang hening dan bersejarah, Gua Kiskendo, Grojogan Sewu, Kedung Pedut, hingga kebun salak tempat pengunjung bisa memetik buah langsung dari pohonnya.

Namun sering kali, semua itu cukup menjadi latar. Karena di Lonovila Menoreh, kenyamanan membuat orang memilih tinggal, dan waktu dibiarkan berjalan dengan caranya sendiri.

“Paling seru itu, nginep di Lonovila Menoreh terus besoknya bisa metik salak dan lanjut ke air terjun. Semuanya dekat. Jadi satu tempat bisa dapet pengalaman nginep, kebun, dan wisata alam sekaligus. Rasanya kayak liburan kampung versi nyaman,” tandasnya.

Lonovila Menoreh bukan sekadar vila. Ia adalah ruang sunyi yang memberi kesempatan bagi siapa pun untuk kembali merasakan hidup yang lebih pelan, lebih dekat dengan alam, dan lebih jujur pada diri sendiri. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *