Home / Sosial & Budaya / Di Kota Tasikmalaya Jompo Lapar Bantuannya Datang dari Yayasan Bukan dari Wali Kota
IMG-20251123-WA0021

Di Kota Tasikmalaya Jompo Lapar Bantuannya Datang dari Yayasan Bukan dari Wali Kota

Tasikzone.com – Di ujung Kampung Babakan, Kelurahan Lewiliang, Kecamatan Kawalu, berdiri sebuah rumah bilik yang hampir menyerah kepada waktu. Atapnya bocor, dindingnya lapuk, dan di dalamnya tinggal seorang perempuan renta bernama Mak Onah sebatang kara, sakit menahun, dan luput dari perhatian negara.

Setiap hari perempuan Jompo itu bertahan hidup dengan bantuan tetangga. Ada yang mengantarkan makanan, ada yang sekadar memeriksa keadaan saat malam turun lebih cepat dari biasanya.

Dalam sunyi, Mak Onah menghabiskan hari dengan cara yang sama yaitu menunggu. Menunggu hujan reda, menunggu sakitnya mereda, mungkin juga menunggu Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi datang yang entah mengapa tak pernah sampai di depan pintu biliknya.

Minggu, 23 November 2025, sebuah harapan kecil akhirnya tiba. Yayasan Padi Nusantara Sejahtera membawa satu karung beras dan uang tunai untuk Mak Onah. Bukan bantuan yang besar, tetapi cukup membuat matanya berbinar dan senyumnya pecah pelan senyum yang mungkin sudah lama tertahan.

Yanuar M Rifqi Relawan Yayasan Padi Nusantara Sejahtera, menyaksikan langsung kondisi tersebut. Dengan nada datar namun sarat keprihatinan, ia berkata,

“Kami bukan pemerintah, tapi kami tidak bisa diam melihat kondisi seperti ini. Seharusnya Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan tahu ada warganya yang hidup dengan cara sesulit ini,”kata Yanuar

Kata-kata itu menggema di antara bilik-bilik rapuh rumah Mak Onah. Sebuah kritik yang tak berlebihan, namun memperlihatkan kondisi pemerintah kota tasikmalaya yang rajin menggelar acara seremonial dan mempromosikan program kesejahteraan seolah menunjukkan bahwa Wali Kota Tasikmalaya lebih memilih menutup mata dan telinga terhadap realitas di lapangan.

BACA JUGA   Mari Bantu Adik Anindita Korban Tabrak Lari Kini Kritis Di Rumah Sakit

Pun. Dirinya menyayangkan baru ini Pemerintah Kota sudah memiliki peraturan dserah Lansia, ia menilai perda itu hanya coretan indah diatas kertas.

“kalau ga salah belum lama Pemkot dengan DPRD telah mensahkan perda Lansia. Kalau itu benar, nampaknya perda itu hanya coretan indah di atas kertas menggantung di langit mimpi Mak Onah dan para lansia, tidak mengakar pada realita di rumah Mak onah serta lansia yang lain,”tambahnya

Jika satu lansia saja bisa terlewat dalam kaca Mata pemerintah, lalu berapa banyak warga yang hidup dalam sunyi serupa ?

Bantuan relawan hari itu membawa kebahagiaan sesaat bagi Mak Onah, namun juga membuka pertanyaan besar,
mengapa pemerintah harus didahului oleh warga sipil untuk sekadar melihat penderitaan seorang jompo ?

Karung beras itu mungkin akan habis, uang tunai itu akan digunakan untuk bertahan beberapa hari ke depan. Tetapi pertanyaan tentang absennya pemerintah terutama Wali Kota Tasikmalaya masih menggantung di rumah bilik itu, menunggu dijawab. Atau mungkin, seperti Mak Onah, tetap menunggu tanpa kepastian. (***)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *