Home / Opini / Ritual Makhluk ALLAH
Ritual Makhluk ALLAH

Ritual Makhluk ALLAH

Oleh : Rifyal Luthfi MR

Bismillah…Setiap tahunnya hilir mudik kendaraan darat, laut dan udara tak terhitung seberapa kali banyaknya, hal ini dikarenakan tiada lain adalah rutinitas manusia sang makhluk Allah untuk melakukan perjumpaan baik dengan kolega, teman, sahabat, orang tua, saudara dan bahkan kekasih hati. Dan inilah saat-saat yang ditunggu, yakni perjumpaan dihari kemenangan (idul Fitri) setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan.

Tentunya kemenangan tersebut akan tetap kita raih jika kita selalu senantiasa menyambungkan tali silaturrahim dengan sesama. Silaturrahim bukanlah sebagai adat istiadat saja ketika hari kemenangan atau lebaran datang, tetapi silaturrahim ini adalah sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya: “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Serta berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman, musafir dan hamba sahaya yang kalian miliki.

Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”(QS. An-Nisa’: 36).Begitu juga Rasulullah saw. dalam sabdanya:“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir; hendaklah ia bersilaturrahim.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).Beliau juga menjanjikan bahwa di antara buah dari silaturrahim adalah keluasan rizki dan umur yang panjang, sabdanya pula: “Barang siapa menginginkan untuk diluaskan rizkinya serta diundur ajalnya; hendaklah ia bersilaturrahim.”(HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).Hadits tersebut seakan kontradiktif dengan firman Allah ta’ala yang artinya: “Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-A’raf: 34).

Namun ada beberapa penafsiran para ulama untuk memadukan antara dua nas di atas antara lain,

Pertama: Pengunduran ajal merupakan kiasan dari keberkahan umur. Atau dengan kata lain, silaturrahim menjadikan seseorang meraih taufik untuk berbuat ketaatan dan menjauhi maksiat,sehingga namanya tetap harum, walaupun telah meninggal dunia. Sehingga seakan-akan ia belum mati.

Kedua: Silaturrahim memang nyata benar-benar menambah umur dan mengundur ajal seseorang. Dan waktu ajal yang dimaksud dalam hadits di atas adalah apa yang tertulis dalam ‘catatan’ malaikat penanggung jawab umur. Sedangkan waktu ajal yang dimaksud dalam ayat adalah apa yang ada dalam ilmu Allah (lauh al-mahfuzh).Keterangan tersebut diisyaratkan dalam firman Allah ta’ala, yang artinya: “Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat ummul kitab (Lauh al-Mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’du: 39).Takdir yang masih berpeluang untuk dihapus dan ditetapkan adalah apa yang ada dalam ‘catatan’malaikat. Adapun takdir yang termaktub dalam lauh al-mahfuzh di sisi Allah maka ini sama sekali tidak akan ada perubahan.Orang yang tidak menjaga tali persaudaraan sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi yang artinya: “Barang siapa menyambungmu (silaturrahim) maka Aku akan bersambung dengannya, dan barang siapa memutusmu (silaturrahim); maka Aku akan memutuskan (hubungan)Ku dengannya.”(HR. Bukhari dari Abu Hurairah).Dari Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga pemutus (silaturrahim).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, marilah kita senantiasa menjaga kemenangan yang telah kita dapat dengan meningkatkan syukur kita kepada Allah swt. dan memelihara ukhuwah di antara kita melalui silaturrahim sebagai ritual yang bukan hanya tahunan saja, tetapi mesti setiap waktu, setiap saat, dimanapun dan kapanpun di antara sesama, Insyaallah dengan demikian kemenangan yang hakiki akan kita raih. Amiin.

Hasbunallah wanimal wakil

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *