Home / Opini / Makhluk Pemutus Kenikmatan
Mahluk Pemutus Kenikmatan

Makhluk Pemutus Kenikmatan

Penulis Oleh : Rifyal Luthfi MR.

Bismillah…Saudaraku, tulisan ini hanya sebuah pengingat sebuah kisah mengenai orang-orang yang hidup kekal di dunia ini, sesungguhnya itu hanya dongeng yang batil.Sebagian orang beranggapan ada orang-orang yang hidup kekal di dunia ini, seperti Khidhir
Alaihissallam, Dzulqarnain atau lainnya. Keyakinan seperti ini tidak dikenal dalam Islam.karena, tidak ada manusia yang hidup kekal di dunia ini.

Kematian, sesungguhnya merupakan hakikat yang menakutkan, akan menghampiri semua manusia. Tidak ada yang mampu menolaknya. Dan tidak ada seorangpun yang mampu
menahannya.Kematian datang berulang-ulang, menjemput setiap orang, orang tua maupun anak,
orang kaya maupun orang miskin, orang kuat maupun orang lemah. Semuanya menghadapi kematian dengan sikap yang sama, tidak ada kemampuan menghindarinya, tidak ada kekuatan, tidak ada pertolongan dari orang lain, tidak ada penolakan, dan tidak ada penundaan. Semua itu mengisyaratkan, bahwa kematian datang dari Pemilik kekuatan yang
paling tinggi.

Meski sedikit, tak seorang pun manusia memiliki wewenang atas kematian.
Saudaraku, ingatlah dalam tiap sel tubuh manusia ternyata ada sebuah sistem waktu yang bertugas mengontrol seluruh proses, mulai dari lahir hingga kematian. Para ilmuwan
menyebutnya sistem kematian sel, sebuah sistem yang bergerak dan berbunyi untuk mengatur tiap sel tubuh manusia termasuk detak jantung. Sebuah sistem yang juga tidak mampu menambah atau mengurangi, sehingga ketika berada diakhir waktu/ketukan, maka kematian datang setelahnya dan tidak pernah bisa ditunda.

Firman Allah swt. :
“Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan dan mendahulukannya sedetikpun.”(QS. An-Nahl: 61) Setelah penelitian panjangnya, para ilmuwan menegaskan bahwa kematian adalah makhluk seperti halnya kehidupan, dan seakan kematian itu adalah dasar utamanya. Dan hal tersebut dapat ditemukan isyaratnya dalam ayat Al-Quran:
“Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji siapa diantara kalian yang terbaik amalnya”. (QS. Al-Mulk: 2)
Hanya ditangan Allah semata pemberian kehidupan. Dan hanya ditanganNya, mengambil kembali yang telah Dia berikan pada ajal yang telah digariskan.

Allah swt. berfirman:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Ali Imran:185).
Maut merupakan ketetapan Allah. Seandainya ada seseorang yang selamat dari maut, niscaya manusia yang paling mulia pun akan selamat. Namun maut merupakan Sunnah
ketetapanNya atas seluruh makhluk.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (Az Zumar:30).
Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan kematian atas diri manusia. Sehingga bagaimanapun manusia berupaya menghindar darinya, kematian itu tetap akan mengejarnya.
Allah swt. berfirman:
“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An Nisa’:78)
Jika demikian, maka bagaimana mungkin manusia dapat lari dan selamat dari kematian? Ketahuilah, sesungguhnya umur kita di dunia ini terbatas dan hanya sebentar.

Orang yang berakal, sepantasnya tidak tertipu dengan gemerlapnya dunia, sehingga melupakan bekal menuju akhiratnya.Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu.” (HR Ibnu Majah).Saudaraku, Banyak hadits-hadits yang mengingatkan tentang kematian, agar manusia
selalu ingat bahwa hidup di dunia tidaklah kekal. Agar manusia bersiap siaga dengan perbekalan yang dibutuhkannya saat perjalanannya yang panjang nanti. Rasulullah saw.
bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. (HR Ibnu Majah).Saudaraku, pernyataan Hamid Al Qaishari perlu kita renungi bahwa kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya!

Kita semua telah meyakini adanya surga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut
terhadapnya! Maka terhadap apa kamu bergembira? Kemungkinan apakah yang kamu
nantikan? Kematian! Itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan membawa kebaikan atau keburukan. Wahai, saudara-saudaraku! Berjalanlah menghadap Penguasamu (Allah) dengan perjalanan yang bagus”. (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm.
483, tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi).

Semoga tulisan ini mengingatkan kita, betapa penting mempersiapkan diri
menghadapi kematian, yang merupakan masalah besar yang dihadapi setiap insan.
Hasbunallahwani`mal wakil

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *