Home / Opini / Berfikirlah Sebelum Terhina
Berfikirlah Sebelum Terhina

Berfikirlah Sebelum Terhina

Oleh: Rifyal Luthfi MR

Ketahuilah bahwa pangkat dan harta itu merupakan sendi atau tiang keduniaan. Pengertian harta ialah memiliki benda-benda yang dapat digunakan untuk kemanfaatan, sedang pengertian pangkat adalah memiliki kecenderungan hati dari orang banyak dengan maksud supaya mereka itu suka mengagung-agungkan kedudukannya, menaati perintahnya. Dengan demikian kalau orang yang mempunyai pangkat tadi dapatllah menyalah gunakan sesuai dengan kemauannya, serta mempergunakan kekuasaannya itu untuk mencapai apa-apa yang menjadi cita-cita dan tujuannya.

Oleh sebab itu, maka hukum kepangkatan adalah sama dengan hukum memiliki harta, sebab semuanya itupun merupakan benda dari kehidupan di dunia dan pasti akan lenyap setelah meninggal dunia nanti, padahal dunia ini adalah ladang akhirat yakni tempat menanamkan kebaikan yang akan dibawa ke akhirat. Jadi segala sesuatu yang diciptakan di dunia ini bolehlah digunakan untuk bekal kepergiannya ke akhirat itu.

Adapun mencintai harta dan pangkat itu sekiranya melebihi apa-apa yang diperlukan oleh jasmani, tentulah tercela. Namun begitu orang yang memilikinya itu bukanlah termasuk golongan orang-orang yang fasik atau maksiat, selama harta dan pangkat itu tidak digunakan sebagai perantara untuk berbuat kemaksiatan. Lagi pula cara memperolehnya itu tidak dilakukan dengan jalan berdusta, menipu, mengelabui mata ummat atau melakukan apa saja yang terlarang menurut ketentuan syari`at,.

Perihal mencari kedudukan dan pangkat, agar memperoleh tempat dalam hati sanubari orang banyak, dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Alghazali dikatakan, yakni yang terlarang apabila seseorang mencari kedudukan agar supaya hati seluruh umat sama meyakinkkan bahwa ia memiliki suatu sifat yang sebenarnya sifat itu tidak ada di dalam dirinya, seperti dalam hal ilmu pengetahuan, kewara`an atau keturunan. Orang tersebut menonjol-nonjolkan bahwa ia adalah keturunan Sayid, kiai atau sulthan, atau menunjuk-nunjuk bahwa ia seorang `alim atau golongan intelek atau ia adalah yang ahli ibadah dan sangat taqwanya kepada Allah. Padahal yang sebenarnya tidaklah demikian. Inilah yang diharamkan, sebab jelas merupakan kedustaan, pengelabuan dan penipuan, baik dengan ucapan atau tindakan dan perbuatan.

Kemudian yang dibolehkan, yakni seseorang yang menghendaki kedudukan dengan suatu sifat yang sebenarnya ia memang bersifat sedemikian, seperti halnya Nabi Yusuf as. yang mengucapkan permohonannya, sebagaimana firman Allah swt.: “Jadikanlah hamba sebagai bendahara bumi (mesir), sesungguhnya hamba ini pandai menjaga dan berpengatahuan.” (QS. Yusuf: 55).

Jadi pangkat bendahara itu memang dicari dan dimohonkan semata-mata karena Allah swt.,sebab beliau (Nabi Yusuf as), merasa dapat menjaga harta dan lagi ada pengetahuan dalam hal itu. Beliau merasa membutuhkan kedudukan ini dan yang diucapkan benar. Memohonkan kedudukan semacam inilah yang dibolehkan.

Ketahuilah juga bahwa seseorang itu apabila hatinya sudah dikalahkan oleh perasaan cinta pangkat dan kedudukan serta kamasyhuran di kalangan ummat, pastilah ia akan sempit pemikirannya, banyak kesedihan dan kesengsaraannya sebab ia terpaksa harus menjaga perasaan semua orang agar tetap manaruh hati padanya, tetap mencintai dan menyanjungnya. Bahkan orang yang demikian itu tidak segan-segan lagi berbuat hal-hal yang merupakan pameran (ria`) agar orang banyak menyangka bahwa ia sebenarnya seperti yang dipamerkan itu. Pameran itu kadang-kadang dilakukan dengan ucapan atau perbuatan. Semuanya itu ditunjukan agar tetap tinggilah harga dirinya dan agunglah kepribadinnya di hadapan ummat.

Sadarilah bahwa prilaku semacam ini adalah benih-benih kemunafikan dan itu pulalah yang merupakan pokok pangkal kerusakan akhlak, karena dengan demikian akan terbawa pula untuk mempermudahkan hal-hal peribadahan, menyebabkan timbulnya sikap ria` dalam menunaikan perintah-perintan Allah, bahkan tidak mustahil larangan-larangan agamapun akan dilanggar dan diterjang demi unutk mencapai tujuannya itu, jika sudah seperti itu maka akan mencapai derajat kehinaan di hadapan manusia bahkan di hadapan Allah swt.

Oleh sebab itu mencintai pangkat, kedudukan dan kemasyhuran adalah termasuk golongan pekara-perkara yang merusakan jiwa dan akhlak manusia. Maka penting sekali penyakit-penyakit tersebut dikikis habis, diobati dan disembuhkan serta dibasmi sampai ke akar-akarnya dari dalam hati. Pengobatannya terdiri dari dua hal yaitu, dengan ilmu pengetahuan dan dengan amal perbuatan yang ikhlas.

Hasbunallah wani`mal Wakil

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *