Home / Opini / Benarkah Menginjak Rumput Tanpa Etika Akan Celaka?
Benarkah Menginjak Rumput Tanpa Etika Akan Celaka

Benarkah Menginjak Rumput Tanpa Etika Akan Celaka?

Oleh Rifyal Luthfi MR.

Rumput dalam bahasa inggris adalah grass, yakni tumbuhan monokotil yang memiliki daun berbentuk sempit meruncing yang tumbuh dari dasar batang. Rumput seringkali ditanam sebagai tanaman hias, tanaman obat, dan pakan ternak.

Rumput yang biasa sehari-hari juga kita lihat adalah rumput taman seperti misalnya; rumput gajah, rumput gajah mini, rumput varigata, rumput Jepang, rumput Peking, rumput Swiss dan rumput-rumput yang lainnya.

Dalam quran surah al-A`laa ayat 4 disampaikan bahwa” Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan.” Ayat ini adalah sebagai bukti ketinggian Allah, Dia mentaqdirkan rumput untuk tumbuh pada tanah yang subur dan dapat memenuhi kebutuhan makanan ternak yang ada dimuka bumi ini.

Adanya padang rumput yang luas juga sekaligus menimbulkan keindahan dipermukaan bumi ini. sehingga jika kita melihat dari atas bumi, maka akan indah pemandangan yang berselimutkan rumput tersebut.

Namun rumput juga jika sudah tidak produktif, artinya sudah mati maka akan terlihat tidak indah lagi, bahkan perubahan wana rumput tersebut disebutkan dalam firmanNya: “Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’laa ayat 5). Dan Ini merupakan pembelajaran dan peringatan dari Allah swt. kepada manusia bahwa Dia yang menciptakan rumput-rumput yang hijau untuk dimanfaatkan sebagai makanan ternak, atau mungkin juga untuk obat dan lain lain, namun harus diingat bahwa rumput yang hijau itu tidak akan selalu hijau, pada waktunya nanti semua rumput yang hijau itu akan berobah menjadi rumput yang kering sehingga tidak dapat dimakan ternak lagi. Karena itu sebelum rumput itu kering maka segeralah manfaatkan sebagai makanan ternak atau kegunaan lainnya.

Demikian juga halnya kehidupan manusia, manusia itu juga berproses seperti rumput tersebut. Manusia yang mulanya muda dan subur tapi akhirnya juga akan menjadi tua. Maka selagi muda, tenaga sedang kuat, pergunakanlah masa muda itu untuk mencari ilmu, mencari nafkah yang halal, berbuat kebaikan, membantu orang yang membutuhkan, serta berbuat yang mengandung kemanfaatan bagi makhluk yang ada dimuka bumi sebagai bekal hidup dunia dan akhirat.

Jika kita lupa atau disengaja serta tidak mengambil ibrah dari rumput yang sering kita injak, maka itulah salah satu bentuk kedholiman terhadap makhluk Allah. Maka perlu diingat oleh kita bahwa rumput itu hidup dan dihidupkan oleh Allah serta mereka bertasbih kepadaNya. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Israa’: 44). Termasuk bertasbihnya rumput kepada Allah Swt.

Rumput mengajarkan kita bahwa meskipun dia sering terinjak, tetapi dia tetap tegar berdiri dan bertahan, ditimbun oleh bebatuan juga dia akan tetap mencari celah untuk tetap tumbuh, bahkan ketika dia dibakar, maka akan semakin banyak dan berkembang, hal itu dikarenakan dirinya selalu berserah diri kepada Allah.

Itulah filosofi rumput yang juga dapat dijadikan sebagai ibrah oleh kita, sehingga kita meyakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan di dunia ini karena semuanya atas izin Allah swt., hanya tinggal kita sebagai pelaku kehidupan yang mesti bersungguh-sungguh mampu untuk berikhtiar dan berdoa serta bertawakal kepada Sang Maha Pencipta.

Demikianlah pelajaran yang dapat kita renungkan dari ayat-ayat Allah ini dan kita amalkan untuk kesajahteraan serta kebahagiaan kita dihari yang akan datang.

Hasbunallah Wani`mal wakil

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!